jltc

Perkembangan Skopostheorie: Lahirnya pendekatan fungsional Christiane Nord (1988)

Harris Hermansyah Setiajid

Penikmat Buku-buku Terjemahan

Anggota JLTC No. 0039

Christiane Nord adalah salah satu teoretikus penerjemahan yang membela Skopostherie. Dalam berbagai kesempatan, Nord memberikan semacam perbaikan dan pengembangan terhadap Skopostherie.  Kritikan terhadap Skopostheorie dijawab oleh Nord dalam bukunya Text Analysis in Translation (1988) yang mengatakan, “walaupun tujuan atau fungsionalitas TSa menjadi kriteria utama sebuah terjemahan, penerjemah tetap tidak diizinkan untuk berbuat semaunya.” 

Untuk menjawab kritikan terhadap Skopostheorie, Nord membedakan antara loyalty (loyalitas) dan fidelity (kesetiaan). Dia mengatakan bahwa kesetiaan adalah konsep hubungan yang mengikat antara teks sumber dan sasaran, sementara loyalitas  merujuk pada kategori interpersonal antara manusia.

Nord menyebut prinsip tersebut sebagai “fungsionalitas plus loyalitas.” Dengan kata lain, loyalitas adalah tanggung jawab penerjemah kepada mitranya (“pemain” meminjam istilah Holz-Mänttäri). Penerjamah harus  bermain “cantik” antara mempertahankan loyalitasnya dan menjaga kesetiaan pada teks.

Selain itu, Nord juga membedakan antara penerjemahan dokumenter (documentary translation) dan penerjemahan instrumental (instrumental translation).

Penerjemahan Dokumenter: berperan sebagai dokumentasi komunikasi budaya sumber antara penulis dan pembaca TSu. Contoh dalam penerjemahan teks sastra, TSa memberikan akses kepada pembaca sasaran untuk mengenali budaya sumber seperti apa adanya, dan pembaca sasaran sadar bahwa yang dibacanya adalah teks terjemahan. Penerjemah memberikan warna “eksotik” kepada teks terjemahannya, misalnya dalam terjemahan cerpen-cerpen Ahmad Tohari, beberapa cultural item tidak diterjemahkan, e.g. mitoni, siraman, dsb.

Penerjemahan Instrumental: berperan sebagai instrumen transmisi pesan dalam budaya sasaran, yang dimaksudkan untuk memenuhi tujuan komunikatif sehingga pembaca tidak sadar sedang membaca teks terjemahan, atau seolah-olah sedang membaca teks yang ditulis dalam bahasa mereka sendiri. Nord menyebut ini sebagai function-preserving translation (bdk. konsep efek kesepadanan Nida). Namun, dia juga memberikan contoh teks terjemahan yang sama sekali berbeda dengan fungsi aslinya, seperti penerjemahan Gulliver’s Travel untuk buku cerita anak.

Nord ternyata tidak berhenti sampai di situ, dalam bukunya Translating as a Purposeful Activity (1997) ia mengajukan model yang lebih fleksibel yang menekankan pada 3 aspek utama, yaitu: (1) pentingnya translation commission (yang kemudian diistilahkannya sebagai translation brief), (2) peran analisis TSu, dan (3) hierarki fungsional masalah penerjemahan.

Pentingnya translation brief.

Sebelum analisis tekstual dilakukan, penerjemah perlu membandingkan profil  TSu dan TSa yang ditentukan dalam brief (commission) untuk mendapatkan informasi tentang (1) fungsi masing-masing teks, (2) penulis TSu dan penerima TSa, (3) tempat dan waktu saat penerjemahan dilakukan dan diterima pembaca, (4) media yang digunakan, (5) motif (mengapa TSu ditulis dan mengapa diterjemahkan).

Peran analisis teks sumber. 

Analisis TSu untuk memetakan (a) kelayakan penerjemahan, (2) butir TSu yang paling relevan yang perlu mendapatkan perhatian untuk mencapai terjemahan yang fungsional, (c) strategi penerjemahan yang diperlukan untuk memenuhi syarat di translation brief. Nord membuat daftar faktor intratekstual yang harus diperhatikan: (1) subjek penerjemahan, (2) isi, (3) presuposisi, (4) komposisi teks, (5) elemen non-verbal, (6) leksis, (7) struktur kalimat, (8) fitur suprasegmental.

Hierarki fungsional masalah penerjemahan.

Nord merekomendasikan hierarki fungsional saat melakukan penerjemahan, dengan pendekatan atas-bawah dimulai dari perspektif pragmatik dengan fungsi TSa yang diinginkan: (a) perbandingan fungsi TSu dan TSa untuk memutuskan tipe terjemahan yang akan dihasilkan (dokumenter atau instrumental), (b) analisis translation brief untuk menentukan elemen fungsional apa yang akan direproduksi atau diadaptasi sesuai dengan situasi/konteks pembaca sasaran, (c) masalah yang ditemui dalam teks bisa diatasi pada tataran linguistik mikro dengan menggunakan analisis intratekstual TSu.

Penekanan pada pentingnya pembaca sasaran ini membuat pendekatan fungsional, yang lahir dari penyempurnaan Skopostheorie yang disusun Vermeer dan Reiss, menjadi pijakan yang jelas bagi para penerjemah dalam menentukan orientasi terjemahannya. Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan fungsional ini membuka dan menjadi dasar bagi lahirnya teori-teori terjemahan lainnya.

Referensi

Hatim, Basil & Munday, Jeremy. (2004). Translation: An Advanced Resource Book. New York: Routledge.

Nord, Christiane (1988). Text Analysis in Translation: Theory,       Methodology, and Didactic Application of a Model for Translation-Oriented Text Analysis. Translated by Christiane Nord and Penelope Sparrow. 2nd edition. Amsterdam: Rodopi.

Nord, Christiane. (1997). Translating as a Purposeful Activity: Functionalist Approaches Explained. Manchester: St. Jerome.

Reiss, Katharina. (2004). ‘Type, kind and individuality of text: Decision making in translation’. Translated by Susan Kitron in Lawrence  Venuti (ed.). The Translation Studies Reader. 2nd edition. New York: Routledge.

Reiss, Katharina & Vermeer, Hans (2013). Towards a General Theory of Translational Action: Skopos Theory Explained. Translated by Christiane Nord. Manchester: St. Jerome.

Vermeer, Hans (2012). ‘Skopos and commission in  translational action’ in Venuti (ed). The Translation Studies Reader. 3rd edition. New York: Routledge.

Membangun reputasi, meraih rezeki lewat Internet

Christien Yueni

Jogja Literary Translation Club

Memanfaatkan situs-situs freelance terjemahan kini semakin banyak diminati oleh mahasiswa, penerjemah pemula, atau bahkan mereka yang telah berkeluarga untuk menambah pemasukan. Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan JLTC menyelenggarakan webinar Penerjemah Pegari dengan menghadirkan Lily Handayani, seorang penerjemah lepas waktu yang telah kenyang pengalaman dalam situs-situs freelance penerjemahan (22/4).

Setelah sambutan dari Simon Arsa Manggala, S.S., M.Hum., Wakil Ketua Prodi Sastra Inggris USD, Lily Handayani membuka pemaparannya dengan berkisah tentang awal dia terjun sebagai penerjemah paruh waktu di situs-situs freelance. Didorong oleh keingintahuannya untuk mendalami dunia penerjemahan dan menambah penghasilan, dia berhasil memanfaatkan beragam situs penyedia jasa yang ditawarkan di Internet, seperti Fiverr, Fastworld, dan Tomedes. Keraguan dan rasa takutnya terhadap para pesaing yang sudah mapan di situs-situs tersebut ditepisnya dengan menawarkan kecepatan dalam penerjemahannya. Tak memakan lama, dia segera mendapat klien pertama yang kemudian menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk mencoba lebih banyak lagi situs penyedia jasa.

Dalam perjalanannya, Lily semakin paham seluk beluk dunia penerjemahan sehingga keterampilannya semakin berkembang dan kepercayaan dirinya semakin besar. Klien yang memberikan feedback yang baik dijadikannya promosi untuk menawarkan dirinya. Lily memandang kustomer harus dilayani dengan baik hingga puas dan pada gilirannya akan kembali untuk meminta jasa menerjemahkan. Salah satu cara untuk melayani kustomer dengan baik adalah dengan memberikan fasilitas revisi kepada mereka jika belum puas pada terjemahan yang dihasilkan Lily. Salah satu hal menarik yang dikemukakan Lily adalah bagaimana kita mengasah kemampuan kita untuk mengetahui keterbatasan kita. Dia berpesan, setelah mendapat klien, penerjemah jangan kemaruk dengan mengambil semua pekerjaan yang ditawarkan klien. Penerjemah profesional harus  tahu batas kemampuannya untuk menjaga mutu terjemahan yang dihasilkannya. Di bagian akhir Lily juga memberikan kiat-kiat bagi para mahasiswa dan penerjemah pemula untuk mulai mengasah keterampilan dan memberanikan diri melangkah serta memanfaatkan beragam kesempatan yang ditawarkan Internet.

Salah satu hal menarik yang dikemukakan Lily adalah bagaimana kita mengasah kemampuan untuk mengetahui keterbatasan kita. Penerjemah jangan kemaruk dengan mengambil semua pekerjaan yang ditawarkan klien. Penerjemah profesional harus tahu batas kemampuannya untuk menjaga mutu terjemahan yang dihasilkannya.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan hangat. Banyak pertanyaan datang dari peserta yang ingin tahu lebih jauh tentang pemanfaatan situs freelance ini. Acara yang dimoderatori oleh Stella Estee ini diakhiri dengan pembagian giveaway untuk para peserta.  Rekaman webinar ini bisa dilihat di Kegiatan – Jogja Literary Translation Club (jltc.live).