June 6, 2026

Satu Dasawarsa JLTC: Merayakan Perjalanan, Menyambut Masa Depan

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah komunitas. Banyak komunitas lahir dengan semangat yang menyala, lalu perlahan meredup ketika energi para pendirinya habis atau ketika kesibukan hidup mulai mengambil alih. Karena itu, ketika Jogja Literary Translation Club (JLTC) merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh pada tahun 2026, yang patut dirayakan bukan hanya angka usianya, melainkan ketahanannya untuk terus hidup, tumbuh, dan memberi makna.

JLTC lahir pada tahun 2016 dari kecintaan terhadap sastra dan penerjemahan. Pada masa itu, ruang-ruang belajar penerjemahan sastra yang terbuka dan informal masih relatif terbatas. Banyak mahasiswa dan pegiat bahasa belajar menerjemahkan secara mandiri, sering kali tanpa komunitas yang dapat menjadi tempat bertanya, berdiskusi, atau berbagi kegelisahan intelektual. JLTC hadir untuk mengisi ruang tersebut.

Sejak awal, JLTC tidak dibangun sebagai sekadar organisasi. Ia tumbuh sebagai ruang perjumpaan. Di dalamnya, mahasiswa dapat berdiskusi dengan dosen, penerjemah pemula dapat belajar dari praktisi berpengalaman, dan para pecinta sastra dapat bertukar pandangan tentang teks-teks yang mereka cintai. Hubungan yang terjalin tidak selalu formal. Banyak yang datang sebagai peserta kegiatan, kemudian menjadi relawan, pengurus, bahkan sahabat yang tetap terhubung hingga hari ini.

Dalam perjalanannya, JLTC mengalami berbagai fase. Ada masa ketika kegiatan berlangsung hampir setiap bulan dengan antusiasme yang melimpah. Ada pula masa ketika tantangan datang silih berganti. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu ujian terbesar. Ketika ruang-ruang pertemuan fisik ditutup dan berbagai aktivitas terhenti, banyak komunitas mengalami stagnasi. Namun JLTC memilih beradaptasi. Webinar, diskusi daring, dan pelatihan virtual menjadi bagian dari keseharian baru. Yang menarik, perubahan ini justru memperluas jangkauan komunitas. Peserta tidak lagi hanya berasal dari Yogyakarta, melainkan dari berbagai daerah di Indonesia.

Sepuluh tahun perjalanan juga telah memperlihatkan bagaimana dunia penerjemahan terus berubah. Jika dahulu penerjemah bekerja dengan kamus cetak dan referensi yang terbatas, kini mereka hidup di era teknologi digital, corpus linguistics, machine translation, hingga kecerdasan buatan. JLTC tidak menutup mata terhadap perubahan tersebut. Sebaliknya, komunitas ini berusaha menjadi ruang dialog antara tradisi dan inovasi, antara kecermatan penerjemahan manusia dan peluang yang ditawarkan teknologi.

Di tengah perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah: keyakinan bahwa penerjemahan adalah jembatan. Melalui penerjemahan, pembaca Indonesia dapat menikmati karya dari berbagai penjuru dunia. Sebaliknya, melalui penerjemahan pula, karya-karya Indonesia memiliki kesempatan untuk menjangkau pembaca lintas bahasa dan budaya. Penerjemahan memungkinkan percakapan yang tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran seorang penerjemah.

Karena itulah, jejak sepuluh tahun JLTC tidak dapat diukur hanya dari jumlah seminar, workshop, atau kegiatan yang pernah diselenggarakan. Jejak itu hidup dalam orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya. Ia hadir dalam mahasiswa yang menemukan panggilan hidupnya sebagai penerjemah. Ia hadir dalam buku yang berhasil diterjemahkan dan diterbitkan. Ia hadir dalam pertemanan, kolaborasi, dan kesempatan-kesempatan baru yang lahir dari komunitas ini.

Perayaan satu dasawarsa ini menjadi kesempatan untuk menoleh ke belakang dengan rasa syukur. Banyak nama yang telah memberi tenaga, waktu, dan pikirannya demi menjaga JLTC tetap hidup. Ada yang masih aktif hingga sekarang, ada pula yang telah melanjutkan perjalanan ke berbagai bidang profesi. Namun semuanya adalah bagian dari cerita yang sama.

Pada saat yang sama, ulang tahun kesepuluh bukanlah titik akhir. Ia lebih menyerupai sebuah penanda di tengah perjalanan. Dunia penerjemahan akan terus berubah. Tantangan baru akan terus muncul. Generasi baru penerjemah akan datang dengan pertanyaan, harapan, dan cara pandang yang berbeda.

Dan seperti sepuluh tahun yang lalu, JLTC akan tetap memiliki alasan untuk hadir: menjadi ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang bertumbuh bagi siapa saja yang percaya bahwa bahasa dapat menghubungkan manusia.

Selamat ulang tahun ke-10, Jogja Literary Translation Club.

Traduco ergo sum.

Aku menerjemahkan, maka aku ada.