Jogja Literary Translation Club

Ketika ChatGPT Masuk ke Kelas Penerjemahan

Harris Hermansyah Setiajid

Pemerhati Penerjemahan

JLTC 0039


Estimasi waktu baca 4-5 menit

Beberapa tahun lalu saya masih bisa menebak proses yang ditempuh mahasiswa ketika mengerjakan tugas penerjemahan. Mereka membuka kamus, mencari contoh penggunaan istilah tertentu di internet, atau bertanya kepada teman. Ada juga yang membuka korpus. Sebagian lagi menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memutuskan satu kata. 

Hari ini situasinya berbeda. Mahasiswa dapat membuka ChatGPT dan dalam hitungan detik memperoleh terjemahan satu paragraf penuh. Jika teksnya tidak terlalu rumit, dengan prompt yang tepat, hasilnya sering kali cukup baik. Kadang-kadang bahkan lebih baik daripada terjemahan mahasiswa pada percobaan pertama.

Perubahan ini membuat saya bertanya-tanya. Jika sebuah sistem dapat menghasilkan terjemahan yang layak dalam beberapa detik, apa yang sebenarnya masih perlu diajarkan di kelas penerjemahan?

Ancaman atau peluang?

Pertanyaan tersebut muncul hampir setiap kali ada diskusi tentang AI dalam pendidikan. Sebagian orang melihatnya sebagai ancaman. Sebagian lainnya melihat peluang yang luar biasa. Saya cenderung berada di kelompok kedua, meskipun dengan beberapa catatan penting.

Untuk memahami situasinya, kita perlu melihat bahwa ChatGPT sebenarnya bukan teknologi pertama yang mengubah cara penerjemah bekerja. Dua puluh tahun lalu, banyak penerjemah mulai menggunakan translation memory dan perangkat lunak CAT Tools. Teknologi ini membantu menyimpan segmen terjemahan yang pernah dibuat sehingga dapat digunakan kembali pada proyek berikutnya. Pekerjaan menjadi lebih cepat dan lebih konsisten.

Kemudian muncul neural machine translation (NMT). Google Translate yang dulu sering menjadi bahan lelucon perlahan menghasilkan terjemahan yang semakin alami. Banyak kalimat sederhana dapat diterjemahkan dengan cukup baik tanpa bantuan manusia yang terlalu besar.

ChatGPT membawa perubahan yang berbeda. Ia tidak hanya menghasilkan terjemahan. Ia juga dapat menjelaskan pilihan kata, memberikan alternatif, membuat ringkasan, bahkan berpura-pura menjadi editor yang memberikan masukan terhadap hasil terjemahan kita.

Batas antara alat bantu dan partner diskusi menjadi semakin kabur.

Dalam konteks pendidikan, hal ini menghadirkan peluang yang menarik. Beberapa waktu lalu saya meminta mahasiswa menerjemahkan sebuah dialog film. Salah satu ujaran yang muncul adalah:

  • “You gotta be kidding me!”

Dulu mahasiswa mungkin menghasilkan satu atau dua alternatif terjemahan. Sekarang mereka dapat meminta ChatGPT menghasilkan banyak versi sekaligus.

  • Kau pasti bercanda.
  • Yang benar saja.
  • Masa sih?
  • Serius nih?
  • Jangan bercanda deh.

Menariknya, pembelajaran justru dimulai setelah daftar itu muncul. Mahasiswa mulai memperdebatkan mana yang paling cocok untuk karakter tertentu, membahas tingkat keformalan, batasan ruang dan waktu takarir yang sempit, dan mendiskusikan emosi tokoh dalam adegan tersebut.

Potensi pedagogis akal imitasi (AI, artificial intelligence)

Selama bertahun-tahun, sebagian besar energi mahasiswa dihabiskan untuk menghasilkan draf pertama. Banyak waktu tersita untuk mencari padanan yang mungkin sebenarnya cukup mudah ditemukan. Ketika AI mengambil alih sebagian pekerjaan tersebut, waktu yang tersedia dapat digunakan untuk kegiatan lain: berdiskusi, mengevaluasi, mengkritisi, dan membandingkan alternatif.

Saya juga melihat perubahan serupa saat membahas penerjemahan sastra. Ketika mahasiswa menerjemahkan deskripsi atau metafora, ChatGPT dapat menghasilkan beberapa versi sekaligus. Mahasiswa punya sesuatu untuk dibedah. Mereka dapat mengidentifikasi pilihan yang terdengar datar, yang terlalu harfiah, atau yang berhasil mempertahankan suasana teks sumber.

AI menjadi semacam generator kemungkinan. Tentu saja tidak semua konsekuensinya positif. Kemudahan selalu membawa godaan. Ketika jawaban tersedia dalam hitungan detik, orang bisa kehilangan kebiasaan untuk mencari, mempertanyakan, dan memverifikasi. Fenomena inilah yang mulai saya amati di beberapa kelas penerjemahan.

Akan tetapi persoalan tersebut tidak berasal dari teknologinya. Persoalannya muncul ketika teknologi digunakan tanpa refleksi. Kalkulator tidak membuat matematika menjadi tidak penting. Mesin pencari tidak membuat literasi informasi menjadi tidak relevan. Demikian pula ChatGPT tidak membuat penerjemahan kehilangan maknanya. Ia hanya mengubah jenis keterampilan yang perlu dikembangkan.

Mungkin kini pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan: “Apakah mahasiswa boleh menggunakan ChatGPT?”

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: “Apa yang harus dilakukan mahasiswa setelah ChatGPT memberikan jawaban?”

Pustaka

Jiménez-Crespo, M. A. (2025). Human-centered AI and the future of translation technologies: What professionals think about control and autonomy in the AI era. Information, 16(5), 387. https://doi.org/10.3390/info16050387

Penet, J.-C., Moorkens, J., & Yamada, M. (Eds.). (2026). Teaching translation in the age of generative AI: New paradigm, new learning? Language Science Press. https://doi.org/10.5281/zenodo.17580856

Saat Pengarang Menerjemahkan Dirinya Sendiri

Harris Hermansyah Setiajid

Pemerhati Penerjemahan

JLTC 0039


Estimasi waktu baca 2-3 menit

Di tengah arus globalisasi sastra dan semakin cairnya batas antarbahasa, praktik self-translation atau penerjemahan oleh pengarang sendiri menjadi salah satu isu paling menarik dalam studi penerjemahan kontemporer. Fenomena menunjukkan mengerucutnya aktivitas linguistik sekaligus tindakan kreatif, negosiasi identitas, bahkan strategi estetik seorang penulis dalam menghadirkan dirinya kepada pembaca lintas budaya. 

Isu itulah yang akan menjadi fokus dalam Seminar Nasional Penerjemahan Sastra 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan Jogja Literary Translation Club (JLTC).

Mengusung tema Self-Translation dan Kepengarangan Dwibahasa”, seminar ini akan berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Ruang Seminar Driyarkara, Auditorium Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tema tersebut terasa sangat relevan di tengah meningkatnya praktik penulisan dwibahasa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. 

Banyak pengarang kini tidak lagi menunggu karyanya diterjemahkan oleh pihak lain. Mereka memilih menulis ulang, memodifikasi, bahkan “menciptakan kembali” karya mereka sendiri dalam bahasa kedua. Dalam konteks seperti itu, pertanyaan tentang kesetiaan teks, otoritas pengarang, dan posisi penerjemah menjadi semakin kompleks.

Diskusi ini akan menghadirkan dua narasumber dengan latar yang saling melengkapi: praktik sastra dan kajian akademik.

Dalih Sembiring dikenal luas sebagai penerjemah sastra, penulis, sekaligus mantan jurnalis budaya. Namanya mendapat perhatian internasional setelah terlibat dalam penerjemahan Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan yang masuk longlist Man Booker International Prize 2016. Selain aktif menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris, ia juga menulis kritik dan esai budaya secara konsisten. Latar jurnalistiknya di The Jakarta Post dan Jakarta Globe membentuk sensitivitas khas terhadap ritme bahasa, nuansa budaya, serta suara naratif dalam teks sastra.

Kehadiran Dalih penting karena pembahasan mengenai self-translation tidak cukup dibicarakan secara teoretis. Dalam praktik penerjemahan sastra, seorang penerjemah kerap berada di wilayah abu-abu antara kesetiaan dan penciptaan ulang. Pengalamannya sebagai penerjemah karya sastra Indonesia untuk pembaca global memberi perspektif konkret tentang bagaimana identitas budaya dinegosiasikan dalam bahasa lain.

Sementara itu, Nur Saptaningsih dari Universitas Sebelas Maret akan menghadirkan dimensi akademik yang kuat dalam seminar ini. Ia dikenal aktif meneliti bidang translation studies, takarir, budaya, dan sastra, dengan publikasi serta rekam akademik yang konsisten di bidang penerjemahan. Minat risetnya mencakup penerjemahan istilah teknis, sastra anak, praktik penerjemahan, hingga kajian ideologi dalam terjemahan.

Dalam perkembangan studi penerjemahan modern, pembicaraan mengenai self-translation memang telah bergerak jauh dari perdebatan lama tentang “tepat” atau “tidak tepat”. Para peneliti kini melihat penerjemahan sebagai ruang produksi makna baru. Ketika seorang pengarang menerjemahkan karyanya sendiri, teks hasil terjemahan sering kali tidak lagi menjadi “salinan”, melainkan versi alternatif yang memiliki otonomi artistik sendiri. Perspektif seperti ini membuka diskusi yang sangat menarik bagi mahasiswa, peneliti, penerjemah, maupun penulis kreatif.

Seminar ini akan dimoderatori oleh Almira Romala, CEO JLTC, yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan ruang belajar penerjemahan berbasis komunitas di Yogyakarta. Kehadiran moderator dari kalangan praktisi komunitas memberi warna tersendiri karena diskusi tidak akan berhenti di wilayah akademik, melainkan juga menyentuh realitas industri dan ekosistem penerjemahan sastra di Indonesia hari ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, seminar dan forum penerjemahan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin serius, baik di lingkungan kampus maupun komunitas profesional. Isu-isu seperti ideologi penerjemahan, penerjemahan sastra, takarir, hingga relasi penerjemahan dan Akal Imitasi (AI, artificial intelligence) semakin sering menjadi perhatian akademik nasional. Namun demikian, pembahasan khusus mengenai self-translation masih relatif jarang disentuh secara mendalam. Karena itu, seminar ini menjadi momentum penting untuk memperluas percakapan tentang posisi pengarang, bahasa, dan identitas dalam sastra kontemporer.

Bagi siapa pun yang tertarik pada sastra, penerjemahan, penulisan kreatif, maupun dinamika bahasa dalam dunia global, seminar ini menawarkan ruang diskusi yang  akademis sekaligus juga reflektif dan relevan dengan perkembangan praktik sastra mutakhir.

Daftar di sini.