Catatan Kami

Satu Dasawarsa JLTC: Merayakan Perjalanan, Menyambut Masa Depan

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah komunitas. Banyak komunitas lahir dengan semangat yang menyala, lalu perlahan meredup ketika energi para pendirinya habis atau ketika kesibukan hidup mulai mengambil alih. Karena itu, ketika Jogja Literary Translation Club (JLTC) merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh pada tahun 2026, yang patut dirayakan bukan hanya angka usianya, melainkan ketahanannya untuk terus hidup, tumbuh, dan memberi makna.

JLTC lahir pada tahun 2016 dari kecintaan terhadap sastra dan penerjemahan. Pada masa itu, ruang-ruang belajar penerjemahan sastra yang terbuka dan informal masih relatif terbatas. Banyak mahasiswa dan pegiat bahasa belajar menerjemahkan secara mandiri, sering kali tanpa komunitas yang dapat menjadi tempat bertanya, berdiskusi, atau berbagi kegelisahan intelektual. JLTC hadir untuk mengisi ruang tersebut.

Sejak awal, JLTC tidak dibangun sebagai sekadar organisasi. Ia tumbuh sebagai ruang perjumpaan. Di dalamnya, mahasiswa dapat berdiskusi dengan dosen, penerjemah pemula dapat belajar dari praktisi berpengalaman, dan para pecinta sastra dapat bertukar pandangan tentang teks-teks yang mereka cintai. Hubungan yang terjalin tidak selalu formal. Banyak yang datang sebagai peserta kegiatan, kemudian menjadi relawan, pengurus, bahkan sahabat yang tetap terhubung hingga hari ini.

Dalam perjalanannya, JLTC mengalami berbagai fase. Ada masa ketika kegiatan berlangsung hampir setiap bulan dengan antusiasme yang melimpah. Ada pula masa ketika tantangan datang silih berganti. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu ujian terbesar. Ketika ruang-ruang pertemuan fisik ditutup dan berbagai aktivitas terhenti, banyak komunitas mengalami stagnasi. Namun JLTC memilih beradaptasi. Webinar, diskusi daring, dan pelatihan virtual menjadi bagian dari keseharian baru. Yang menarik, perubahan ini justru memperluas jangkauan komunitas. Peserta tidak lagi hanya berasal dari Yogyakarta, melainkan dari berbagai daerah di Indonesia.

Sepuluh tahun perjalanan juga telah memperlihatkan bagaimana dunia penerjemahan terus berubah. Jika dahulu penerjemah bekerja dengan kamus cetak dan referensi yang terbatas, kini mereka hidup di era teknologi digital, corpus linguistics, machine translation, hingga kecerdasan buatan. JLTC tidak menutup mata terhadap perubahan tersebut. Sebaliknya, komunitas ini berusaha menjadi ruang dialog antara tradisi dan inovasi, antara kecermatan penerjemahan manusia dan peluang yang ditawarkan teknologi.

Di tengah perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah: keyakinan bahwa penerjemahan adalah jembatan. Melalui penerjemahan, pembaca Indonesia dapat menikmati karya dari berbagai penjuru dunia. Sebaliknya, melalui penerjemahan pula, karya-karya Indonesia memiliki kesempatan untuk menjangkau pembaca lintas bahasa dan budaya. Penerjemahan memungkinkan percakapan yang tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran seorang penerjemah.

Karena itulah, jejak sepuluh tahun JLTC tidak dapat diukur hanya dari jumlah seminar, workshop, atau kegiatan yang pernah diselenggarakan. Jejak itu hidup dalam orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya. Ia hadir dalam mahasiswa yang menemukan panggilan hidupnya sebagai penerjemah. Ia hadir dalam buku yang berhasil diterjemahkan dan diterbitkan. Ia hadir dalam pertemanan, kolaborasi, dan kesempatan-kesempatan baru yang lahir dari komunitas ini.

Perayaan satu dasawarsa ini menjadi kesempatan untuk menoleh ke belakang dengan rasa syukur. Banyak nama yang telah memberi tenaga, waktu, dan pikirannya demi menjaga JLTC tetap hidup. Ada yang masih aktif hingga sekarang, ada pula yang telah melanjutkan perjalanan ke berbagai bidang profesi. Namun semuanya adalah bagian dari cerita yang sama.

Pada saat yang sama, ulang tahun kesepuluh bukanlah titik akhir. Ia lebih menyerupai sebuah penanda di tengah perjalanan. Dunia penerjemahan akan terus berubah. Tantangan baru akan terus muncul. Generasi baru penerjemah akan datang dengan pertanyaan, harapan, dan cara pandang yang berbeda.

Dan seperti sepuluh tahun yang lalu, JLTC akan tetap memiliki alasan untuk hadir: menjadi ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang bertumbuh bagi siapa saja yang percaya bahwa bahasa dapat menghubungkan manusia.

Selamat ulang tahun ke-10, Jogja Literary Translation Club.

Traduco ergo sum.

Aku menerjemahkan, maka aku ada.

Para Jawara Translation Olympiad #1 yang Wajib Kamu Kenal!

Tim Translation Olympiad #1

Estimasi waktu baca: 2-3 menit

Gelombang baru dunia penerjemahan lahir dari tangan-tangan muda yang penuh bakat, keberanian, dan kecintaan pada bahasa. Translation Olympiad #1, ajang berskala nasional yang diselenggarakan untuk merayakan Hari Penerjemahan Internasional oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan Jogja Literary Translation Club, telah resmi menutup babak penilaiannya. Para pemenang akhirnya diumumkan, dan hasilnya sungguh menunjukkan bahwa masa depan dunia terjemahan berada di tangan yang tepat.

Kompetisi ini mencakup tiga kategori utama: Haiku Translation, Short Story Translation, dan Bilingual Children’s Story Writing. Setiap kategori menyimpan tantangan yang berbeda, dari memindahkan keheningan haiku ke dalam bahasa Indonesia, menerjemahkan ketegangan naratif cerita pendek, hingga menulis cerita anak dwibahasa yang imajinatif dan mudah dipahami pembaca cilik. Ratusan naskah masuk dari seluruh Indonesia, dan para juri harus melalui proses penilaian yang ketat sebelum menentukan siapa yang layak menyandang gelar juara.

Haiku Translation: Ketepatan, Kejernihan, dan Jiwa Bahasa

Pada kategori ini, para peserta ditantang merangkai kembali kehalusan haiku dengan kesetiaan rasa dan kepekaan estetika.

Kategori Pelajar/Mahasiswa menghadirkan tiga nama yang berhasil merebut hati juri:

  1. Josephine Valencia Widjaja (Bandung) – Juara 1
  2. Evangeline Budiman (Yogyakarta) – Juara 2
  3. Amelia Oentari (Yogyakarta) – Juara 3

Sementara itu, Kategori Umum menampilkan persaingan yang tak kalah ketat:

  1. Widyasanti Pirenaningtyas (Jakarta) – Juara 1
  2. Nadawutu Purnayoga (Kebumen) – Juara 2
  3. Katherine Dinda (Yogyakarta) – Juara 3

Para pemenang ini menunjukkan bagaimana tiga baris pendek bisa menjadi ladang kreativitas tanpa batas, tempat nuansa dan emosi diolah dengan begitu halus.

Short Story Translation: Ketika Narasi Melampaui Bahasa

Tantangan terbesar dalam menerjemahkan cerita pendek adalah menjaga alur, emosi, dan gaya penulis sambil tetap memastikan keharmonisan bahasa sasaran.

Dalam Kategori Pelajar/Mahasiswa, gelar juara diraih oleh:

  1. Yukiko Elfa (Boyolali) – Juara 1
  2. Maharani Kunthi (Yogyakarta) – Juara 2
  3. Zahra Nurfitri Laila (Purwokerto) – Juara 3

Sementara itu, Kategori Umum menghadirkan tiga nama yang tak hanya kuat dalam teknik tetapi juga kaya dalam interpretasi:

  1. Maria Eka Putri (Yogyakarta) – Juara 1
  2. Widyasanti Pirenaningtyas (Jakarta) – Juara 2
  3. Ardiani Nur Fadhila (Sleman) – Juara 3

Para pemenang ini bukan hanya menerjemahkan cerita, mereka menghidupkannya kembali dalam medium bahasa yang berbeda.

Bilingual Children’s Story Writing: Imajinasi Tanpa Batas untuk Pembaca Cilik

Kategori penulisan cerita anak dwibahasa menyita perhatian juri karena kreativitas para peserta benar-benar meledak. Dari angsa berbuluh perak hingga perjalanan warna kulit, karya-karya yang masuk begitu kaya makna sekaligus ramah bagi anak-anak. Karya yang masuk sangat banyak sehingga proses penilaian tim juri berlangsung cukup lama diwarnai adu argumentasi yang hangat karena tipisnya selisih skor yang diperoleh para peserta.

Akhirnya, diperoleh daftar juara sebagai berikut:

  1. Callista Josephine Tanosa – The Silver Feathered Swan
  2. Yusa Syifa Hudoyo – Kaleidoscope
  3. Imanina Resti Sujarwanto – Ada Apa dengan Warna Kulitku
  4. Hanifah Salsabila – Sayap Sang Malaikat dan Hati Si Pencuri

Kategori ini juga unik karena dua peserta berhasil meraih Juara 2 (Yusa Syifa Hudoyo dan Imanina Resti Sujarwo). Setelah proses tie-break yang cukup lama, juri tidak berhasil menentukan mana yang lebih baik menunjukkan karena keduanya memperoleh skor yang sama kuat. Keputusan untuk memberikan dua pemenang adalah bentuk apresiasi terhadap kualitas karya yang sama-sama layak dipuji.

Gerakan Menghidupkan Dunia Penerjemahan Indonesia

Translation Olympiad #1 bukan sekadar lomba. Ia adalah panggung yang menghadirkan wajah baru penerjemahan Indonesia, lebih berani, lebih kreatif, dan lebih siap menghadapi dunia global. Para peserta menunjukkan bahwa penerjemahan bukan lagi dianggap sekadar alih bahasa, tetapi sebuah seni, sebuah keahlian intelektual, dan bahkan sebuah jembatan budaya.

Melihat hasil karya para pemenang, satu hal menjadi jelas: generasi baru penerjemah Indonesia telah lahir, dan mereka membawa semangat, kecerdasan, serta visi yang segar dan menginspirasi.

Kami di JLTC bangga menjadi bagian dari perjalanan mereka. Semoga kehadiran Translation Olympiad #1 menjadi awal dari tradisi panjang kompetisi penerjemahan di Indonesia, yang bukan hanya melahirkan juara, tetapi juga membangun ekosistem literasi bahasa yang lebih kuat.

Selamat kepada para pemenang! Dunia penerjemahan menanti karya-karya hebat kalian berikutnya.