Menerjemahkan Homer untuk Abad ke-21

Harris Hermansyah Setiajid

Pemerhati Penerjemahan

Universitas Sanata Dharma

JLTC 0039


Estimasi waktu baca 4-5 menit

Ketika film Odyssey karya Christopher Nolan mulai beredar, perhatian publik segera tertuju pada berbagai keputusan artistiknya. Salah satu yang paling ramai diperbincangkan adalah pemilihan aktris Lupita Nyong’o sebagai Helen of Troy. Sebagian menyebutnya sebagai bentuk reinterpretasi yang sah atas karya klasik, sementara yang lain menganggapnya terlalu jauh dari imajinasi tradisional tentang sosok Helen. 

Menariknya, bagi para penerjemah, kontroversi itu sebenarnya bukanlah hal baru. Perdebatan tersebut telah dimulai hampir satu dekade sebelumnya, ketika Emily Wilson menerbitkan terjemahan bahasa Inggris Odyssey pada 2017, yang kini mulai mengemuka lagi.

Wilson bukan sekadar menjadi perempuan pertama yang menerjemahkan keseluruhan Odyssey ke dalam bahasa Inggris. Yang lebih penting, ia menawarkan cara baru membaca Homer. Selama berabad-abad, banyak penerjemah berusaha mempertahankan kesan agung dan kuno dari puisi epik itu. Kalimat-kalimatnya dibuat panjang, ritmis, dan sering kali terdengar seperti bahasa Inggris dari masa lampau. Pendekatan semacam itu memang memberikan nuansa klasik, tetapi juga menciptakan jarak antara pembaca modern dan teks aslinya.

Perbedaan pendekatan itu langsung terlihat pada baris pembuka Odyssey.

Richmond Lattimore (1965), yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu penerjemahan paling setia terhadap teks Yunani, membuka dengan kalimat:

Tell me, Muse, of the man of many ways…

Robert Fagles (1996) memilih gaya yang lebih dramatis:

Sing to me of the man, Muse, the man of twists and turns…

Emily Wilson (2017) mengambil keputusan yang sama sekali berbeda.

Tell me about a complicated man.

Lattimore dan Fagles berusaha menangkap makna kata Yunani polytropos, kata yang menggambarkan Odysseus sebagai sosok yang banyak akal, cerdik, dan mampu beradaptasi dalam berbagai situasi.

Dalam terjemahan Wilson, Odysseus tidak lagi pertama-tama dipahami sebagai pahlawan yang licin atau penuh tipu daya, melainkan sebagai manusia yang kompleks. Kata complicated memang tidak menerjemahkan polytropos secara harfiah, tetapi justru mengajak pembaca melihat tokoh utama Homer sebagai pribadi yang penuh kontradiksi: cerdas, berani, setia, tetapi juga manipulatif dan sering mengambil keputusan yang problematis.

Pilihan kata inilah yang memperlihatkan bahwa penerjemahan bukan sekadar mencari padanan leksikal. Penerjemah juga menentukan perspektif dari mana pembaca akan memasuki sebuah cerita.

Pendekatan Wilson tidak berhenti pada satu kata itu saja. Ia secara konsisten menggunakan bahasa Inggris kontemporer. Menurutnya, tidak ada alasan mengapa Homer harus terdengar seperti bahasa Inggris abad ke-17 hanya karena teksnya berasal dari Yunani kuno. Dalam pengantar terjemahannya, Wilson bahkan menulis bahwa “Homernya” tidak berbicara dengan bahasa Inggris nenek moyang. Ia ingin pembaca modern merasakan Odyssey sebagaimana orang Yunani kuno dahulu mendengarnya: hidup, mengalir, dan dekat dengan bahasa sehari-hari.

Tentu saja, pendekatan ini menuai kritik. Sebagian akademisi memuji keberaniannya menghadirkan Homer bagi generasi baru. Sebagian lainnya menilai Wilson terlalu memodernkan teks sehingga menghilangkan sebagian nuansa puitis dan kompleksitas bahasa Yunani. Yang menarik, seperti diakui Wilson sendiri, perdebatan itu lama-kelamaan bergeser dari persoalan penerjemahan menjadi bagian dari culture wars—perdebatan tentang identitas, ideologi, dan representasi budaya.

Di sinilah film Christopher Nolan menjadi relevan. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa naskah film tersebut banyak dipengaruhi oleh terjemahan Wilson. Jika demikian, keputusan-keputusan artistik Nolan mungkin bukan muncul dari ruang hampa, melainkan berangkat dari interpretasi yang telah lebih dahulu dilakukan oleh penerjemah. Dengan kata lain, sebelum sutradara menafsirkan Odyssey ke layar lebar, seorang penerjemah telah lebih dahulu menafsirkan Homer melalui pilihan katanya.

Bagi para penerjemah, kisah ini menawarkan pelajaran yang menarik. Kita sering menganggap penerjemahan sebagai pekerjaan “memindahkan” teks dari satu bahasa ke bahasa lain. Padahal, setiap pilihan diksi, ritme, dan gaya bahasa adalah bentuk interpretasi. Dua penerjemah yang sama-sama setia pada teks sumber dapat menghasilkan pengalaman membaca yang sama sekali berbeda.

Barangkali itulah sebabnya Odyssey tetap hidup hampir tiga ribu tahun setelah pertama kali dituturkan. Setiap generasi membacanya dengan cara yang berbeda, dan setiap penerjemah menghadirkan Homer yang sedikit berbeda pula. Ketika pembaca hari ini memperdebatkan film Christopher Nolan, sesungguhnya mereka juga sedang memperdebatkan sesuatu yang telah lama menjadi inti dunia penerjemahan: siapa yang paling berhak menentukan makna sebuah teks klasik—penulisnya, penerjemahnya, atau pembacanya?

Pustaka

Fagles, R. (Trans.). (1996). The Odyssey. Penguin Books. (Original work composed ca. 8th century BCE)

Homer. (1996). The Odyssey (R. Fagles, Trans.). Penguin Books. (Original work composed ca. 8th century BCE)

Lattimore, R. (Trans.). (1965). The Odyssey of Homer. Harper & Row.

Siokos, E. (2026, July 14). Emily Wilson on the ‘toxic’ reaction to her radical Odyssey translation. The Telegraph. https://www.telegraph.co.uk/books/authors/emily-wilson-translation-interview-odyssey-wine-dark-sea/

Vulture. (2026, June 23). The Odyssey translator Emily Wilson on Nolan’s new movie. https://www.vulture.com/article/the-odyssey-translator-emily-wilson-christopher-nolan.html

Catatan Transparansi AI:
Ilustrasi dalam artikel ini dikembangkan berdasarkan isi artikel oleh penulis dan divisualisasikan dengan bantuan ChatGPT. AI digunakan sebagai alat bantu visualisasi, sedangkan seluruh gagasan utama, verifikasi isi, dan tanggung jawab ilmiah berada pada penulis.