jltc

Paradigma Pengembangan dalam Evaluasi Tes Penerjemahan

Prayudi Wijaya, M.A.

pw-translation.com

Anggota JLTC No. 0203

Mengevaluasi tes terjemahan adalah salah satu bagian penting dalam industri penerjemahan. Saat hendak bergabung ke sebuah agensi penerjemahan, seorang penerjemah umumnya akan diminta melakukan tes terjemahan untuk melihat apakah hasil terjemahannya sesuai dengan gaya dan standar yang diterapkan oleh agensi.

Mengingat betapa vitalnya pekerjaan ini, tugas mengevaluasi tes penerjemahan sudah tentu dibebankan kepada penerjemah yang oleh agensi bersangkutan dianggap tidak hanya cukup mumpuni sebagai penerjemah, tetapi juga objektif dalam menilai. Sayangnya, dalam praktiknya subjektivitas pengevaluasi kerap masih tampak dominan. Subjektif di sini maksudnya membandingkan terjemahan yang ada dengan bentuk “ideal” yang diinginkannya. Akibatnya, hal-hal yang sebenarnya berterima secara linguistik, dianggap salah hanya karena dianggap “kurang ideal”.

Selain subjektivitas, ada pula kecenderungan lain yang terjadi, yaitu mencari-cari kesalahan. Ini tampaknya muncul karena pengevaluasi ingin dianggap benar-benar kompeten dan tidak “makan gaji buta”, sehingga apa yang mestinya sudah benar tetap dianggap salah.

Sebagai penerjemah cukup sering mengevaluasi tes penerjemahan, baik atas permintaan agensi asing maupun untuk kantor saya sendiri saat butuh bekerja sama dengan penerjemah pemula, menurut saya paradigma mencari-cari kesalahan ini harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan paradigma pengembangan. Artinya, mengevaluasi tes terjemahan harus dilakukan untuk tujuan membina dan mengembangkan si calon penerjemah. Ini penting, karena pelaku tes terjemahan umumnya penerjemah yang, kalau tidak bisa dibilang baru, masih awam dengan bidang yang diuji. Penerjemah yang sudah diakui pengalamannya dalam suatu bidang biasanya tidak perlu atau bahkan tidak mau lagi melakukan tes, karena kemahiran mereka tampak dari portofolionya.

Mengevaluasi tes terjemahan harus dilakukan untuk tujuan membina dan mengembangkan si calon penerjemah. Ini penting, karena pelaku tes terjemahan umumnya penerjemah yang, kalau tidak bisa dibilang baru, masih awam dengan bidang yang diuji. Penerjemah yang sudah diakui pengalamannya dalam suatu bidang biasanya tidak perlu atau bahkan tidak mau lagi melakukan tes, karena kemahiran mereka tampak dari portofolionya.

Memahami metode dan teknik yang digunakan penerjemah

 Memahami metode dan teknik yang digunakan penerjemah hendaknya perlu diupayakan oleh pengevaluasi, agar dapat menyelami apa yang ada di benak penerjemah saat mengerjakan tes. Metode di sini maksudnya adalah pendekatan penerjemah terhadap teks secara keseluruhan—apakah ingin berorientasi ke bahasa sumber atau sasaran—sedangkan teknik maksudnya bagaimana penerjemah menghadapi kendala penerjemahan secara kasuistik. Keduanya akan menentukan keputusan dan diksi yang digunakan penerjemah dalam menerjemahkan, dan pada akhirnya menentukan apakah terjemahannya fungsional atau tidak, usable atau tidak.

Kesalahan versus kesilapan

Meskipun salah satu aspek dalam mengevaluasi adalah mencari kesalahan, menurut saya perlu adanya pembedaan antara kesalahan/error dan kesilapan/mistake. Keduanya tampak bersinonim, tetapi berbeda secara intensi. Kesalahan terjadi jika penerjemah tidak mengetahui kalau itu salah, dan ini tampak biasanya dari kemunculannya yang konsisten. Misalnya, banyak calon penerjemah yang masih belum mengetahui perbedaan antara semua dan seluruh, sehingga selalu salah penggunaannya. Namun, kesilapan terjadi jika penerjemah tahu kalau itu salah, tetapi tetap dilakukan dengan tidak sengaja. Ini biasanya tampak dari kemunculannya yang sporadis, misalnya kesalahan tik atau penulisan awalan di- yang tidak konsiten. Kesalahan menunjukkan tingkat pengetahuan linguistik penerjemah dan kesilapan menunjukkan tingkat ketelitiannya. Bagi penerjemah baru, kesalahan lebih dapat dimaklumi, karena pengetahuan dapat ditingkatkan seiring waktu.

Register dan preferensi pribadi

Kemampuan menahan diri untuk tidak melibatkan preferensi pribadi juga diperlukan bagi seorang pengevaluasi. Tidak jarang, seorang pengevaluasi menggunakan pilihan kata yang disukainya dengan dalih “lebih sesuai register” tanpa mempertimbangkan opsi lain yang sebenarnya tidak bermasalah, termasuk opsi yang diberikan oleh penerjemah. Register atau gaya bahasa semestinya didefinisikan dengan jelas tataran dan cakupannya sebagai bagian dari instruksi tes: misalnya tingkat formalitasnya, adakah kata-kata yang mesti digunakan, tujuan teks, dll., sehingga pengevaluasi tidak “semena-mena” memaksakan preferensi pribadinya, terlebih untuk hal-hal di luar yang telah diinstruksikan.

Potensi pengembangan dan masukan yang membangun

Saat mengevaluasi, saya kerap mengira-ngira potensi yang dimiliki penerjemah berdasarkan kesilapan dan kesalahan yang dilakukannya, serta pilihan metode dan gaya penerjemahannya. Apakah penerjemah memang sudah terbiasa dengan bidang yang diujikan? Akankah butuh waktu lama bagi penerjemah untuk membiasakan diri? Apa saja yang perlu ditingkatkan oleh penerjemah ke depannya terkait bidang yang diujikan? Hal-hal seperti ini seyogianya menjadi penentu keputusan apakah seorang penerjemah dapat diterima bergabung ke dalam tim atau tidak, sesuai dengan urgensi dan kebutuhan pengguna.

Hal terakhir yang tidak boleh dilupakan, tentunya memberikan masukan yang membangun dan dapat menjadi acuan bagi penerjemah. Maksudnya bukan menggurui, tetapi sekadar berbagi pengalaman dan pendapat dengan nada netral, sembari membuka ruang untuk mendengar pendapat maupun pertanyaan mereka, jika hal ini dimungkinkan oleh agensi pengguna.

6-6-6

Christien Yueni

Jogja Literary  Translation Club

Hari ini tepat 6 tahun lalu, Jogja Literary Translation Club  (JLTC) mulai menapakkan kakinya, mencoba menemukan eksistensinya di tengah dunia yang makin ramai dan gaduh. Menemukan eksistensi dan niche dalam dunia yang semakin penuh ini sangat tidak mudah karena banyak celah telah terjembatani dan ceruk telah terisi. Namun, pemilihan penerjemahan sastra sebagai inti dari perkumpulan ini tampaknya telah menghasilkan buah yang patut disyukuri. Di tengah laju perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial, aktivitas penerjemahan mulai terambil oleh mesin. Penerjemahan sastra yang disebut sebagai benteng terakhir penerjemahan manusia seolah menegaskan relevansi misi dan visi JLTC.

Tulisan berikut ini  mencoba merekonstruksi perjalanan JLTC dari awal berdirinya 06-6-2016 hingga hari ini 06-06-2022 dengan membuat periodisasi JLTC, yaitu formatif, eksploratif, dan integratif.

Periode formatif

Periode ini menjadi basis berdirinya JLTC. Ditandai dengan diselenggarakannya kegiatan lokakarya penerjemahan sastra yang dipimpin oleh Rosemary Kesauly, JLTC mulai memperkenalkan dirinya menjadi sebuah perkumpulan yang ditujukan sebagai ajang bagi para penerjemah pemula untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman menerjemahkan. 

Perkumpulan penerjemah sebetulnya sudah banyak berdiri dan mapan. Namun, untuk mewadahi para penerjemah pemula yang kadang masih ragu untuk bergabung ke dalam perkumpulan penerjemah mapan diperlukan semacam bridging agar bisa lebih percaya diri. Periode formatif ini merupakan momen bagi JLTC untuk membentuk dirinya, melihat yang bisa dilakukan, dan merencanakan langkah selanjutnya berdasarkan evaluasi.

Periode formatif ini menjadi tahun-tahun yang cukup berat bagi JLTC terutama terkait masalah kontinuitas pendanaan dan kegiatan yang bisa dilakukan. Namun, dukungan dari para anggota awal  JLTC membuat perjalanan formatif ini mulai menemukan momentumnya. Didukung penuh oleh Prodi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, JLTC memulai kegiatannya yang berskala nasional dengan menyelenggarakan seminar penerjemahan pertama bertema “Menilik Ulang Teori dan Praktik Penerjemahan.” Kesuksesan acara ini menebalkan keyakinan  kami bahwa kami telah berada di jalur yang tepat. Kekhawatiran tentang bagaimana format JLTC mulai menemukan penenangnya.

Periode eksploratif

Dengan keyakinan diri yang makin tebal seiring dengan makin banyaknya minat untuk menjadi anggota, JLTC mulai merancang acara dan juga konten-konten media sosial untuk menegaskan postur JLTC sebagai sebuah perkumpulan penerjemah yang bisa ikut berbicara dan menyumbang demi kemaslahatan dunia penerjemahan. Pada periode ini, yang kami sebut juga sebagai periode coba-coba, kami melebarkan ‘sayap’ dengan merambah bidang-bidang yang secara langsung tidak terkait dengan penerjemahan, seperti acara ‘JLTC Education’, dan bahkan ‘JLTC Extended’, sebuah acara yang sangat jauh dari rel penerjemahan! Periode eksploratif ini membuka mata kami, sebenarnya banyak bidang yang bisa kami rambah, namun keterbatasan tenaga  membuat keajegan acara tidak bisa terjaga. Dalam evaluasi ditemukan bahwa kegiatan yang tidak begitu terkait dengan penerjemahan akan menguras tenaga dan membuyarkan konsentrasi kami untuk mengadvokasi para penerjemah. Bergabungnya para penerjemah kawakan menjadi anggota JLTC membuat kami menyadari bahwa kami memiliki aset yang sangat berharga yang bisa kami manfaatkan untuk mengadvokasi penerjemah pemula sekaligus menyumbang bagi perkembangan penerjemahan. Dalam periode eksploratif ini, JLTC mengundang para pembicara berkaliber internasional seperti John McGlynn (Lontar Foundation), Haru Deliana Dewi (Universitas Indonesia), dan Dono Sunardi (Universitas Ma Chung). Kehadiran para pakar dalam seminar yang diselenggarakan JLTC dan disambut secara antusias mewarnai periode ini.

Periode integratif

Pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020 mengacaukan semua rancangan acara yang disusun JLTC untuk mengembangkan dirinya. Namun, pandemi ini juga memaksa kami untuk membuat acara yang bisa dilakukan secara jarak jauh. Selain itu, pandemi ini juga semakin menyadarkan kami pentingnya situs web sebagai anchor bagi semua media sosial JLTC. Situs web ini berisi ‘Kontribusi Komunitas’ yang berisi artikel-artikel tulisan para anggota JLTC, ‘Teori Penerjemahan’ yang mengulas teori penerjemahan secara ringkas dan mudah dipahami, hasil penelitian terjemahan para anggota JLTC, dan Direktori Penerjemah JLTC yang memudahkan klien untuk mencari penerjemah yang mereka ingini. Untuk mengatasi kekosongan akibat batalnya berbagai acara yang kami susun, kami membuat acara interaktif agar JLTC tetap dekat di hati anggota sambil sekaligus reaching out  kepada calon anggota. Acara ‘Yemi & the Alumni’ hadir mengisi kekosongan tersebut dengan mengundang alumni yang bekerja di beragam bidang pekerjaan. Untuk mengakomodasi dan semakin mengenalkan anggota JLTC kami membuat acara ‘Emerging Translator’. Periode integratif ini juga membuat kami untuk kembali ke bisnis inti kami, yaitu penerjemahan. Beberapa kegiatan yang tak lagi terkait dengan penerjemahan kami hapus. JLTC juga merasa perlu untuk mengukuhkan dirinya sebagai badan hukum untuk membuat langkah-langkah kami lebih legal. Pada tanggal 21 Desember 2021 JLTC diakui keberadaannya oleh negara dengan terbitnya SK Menkumham RI. Berbekal SK tersebut JLTC bisa melapangkan geraknya dan kini bisa merambah ke bisnis penerbitan buku. Periode integratif ini menjadi momen penting bagi JLTC untuk kembali ke khittah-nya sebagai perkumpulan penerjemah.

Hari ini tanggal 6 bulan 6, JLTC tepat berusia 6 tahun. Angka 666 dalam Kekristenan, seperti termuat dalam Kitab Wahyu Bab 13, dipercaya sebagai the number of beasts, makhluk jahat (atau Antikristus) yang akan muncul menjelang hari kiamat. Namun, bagi kami di JLTC, angka 666 adalah angka yang harus kami syukuri, karena kami bisa survive and thrive, semakin kuat dan percaya diri untuk melangkah ke tahun-tahun selanjutnya yang kami percaya akan semakin banyak tantangan dan hambatan.

Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh anggota JLTC yang selalu setia dan mendukung keberlangsungan perkumpulan ini. Teriring salam hangat dari kami pengurus JLTC.