jltc

Akankah Kita (Penerjemah) Bisa Bertahan?

Harris Hermansyah Setiajid

Universitas Sanata Dharma

Anggota JLTC No. 0039

Di era digital saat ini, mesin penerjemah semakin marak dan berkembang pesat. Berbagai platform online telah menawarkan penerjemahan otomatis yang terus meningkatkan kemampuannya, bahkan dalam beberapa kasus, mesin penerjemah telah dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan dalam menerjemahkan teks. Adanya mesin penerjemah yang berkembang pesat di era digital ini menimbulkan pertanyaan, apakah profesi penerjemah akan tertinggal dan tergusur oleh mesin penerjemah?

Penerjemahan telah menjadi profesi yang vital bagi perusahaan multinasional, organisasi, penerbit, dan individu yang ingin menjangkau pasar global. Penerjemah juga menjadi kunci penting dalam hubungan internasional dan perdagangan antar negara. Apakah penggunaan mesin penerjemah akan mengancam eksistensi profesi penerjemah?

Kendala dan Keuntungan Mesin Penerjemah

Mesin Penerjemah memiliki keuntungan dalam penggunaannya yang dapat mengancam profesi penerjemah. Salah satunya adalah kecepatan dan konsistensi hasil terjemahan yang dihasilkan oleh mesin penerjemah. Dalam waktu yang singkat, mesin penerjemah dapat menerjemahkan dokumen atau teks dalam jumlah besar dan menghasilkan konsistensi dalam hasil terjemahan. Hal ini tentu menjadi keuntungan bagi perusahaan atau organisasi yang membutuhkan hasil terjemahan dalam waktu yang singkat.

Mesin penerjemah juga memiliki keuntungan dalam biaya, antara lain penggunaannya gratis atau dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan tarif penerjemah manusia. Itu tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan atau organisasi yang membutuhkan hasil terjemahan dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat.

Namun, mesin penerjemah memiliki keterbatasan dalam hal kemampuan dan akurasi terjemahan. Mesin penerjemah belum dapat sepenuhnya menangkap konteks, nuansa dan makna tertentu dalam bahasa asli, sehingga hasil terjemahan yang dihasilkan oleh mesin penerjemah masih rentan terhadap kesalahan dan kekeliruan. Hasil terjemahan yang dihasilkan oleh mesin penerjemah juga belum dapat disesuaikan dengan kaidah dan aturan tata bahasa dalam bahasa target. Mesin penerjemah tidak dapat menangkap situasi tertentu yang terkait dengan konteks, seperti kosakata dan frasa tertentu dalam bahasa target.

Mesin penerjemah tidak dapat menangkap nuansa dan konteks yang lebih luas dalam bahasa asli dan dapat menyebabkan kesalahan dan kekeliruan dalam hasil terjemahan. Penerjemah manusia dapat membantu menghindari kesalahan tersebut dan dapat menyesuaikan terjemahan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.

Kelebihan dan Kelemahan Penerjemah Manusia

Penerjemah manusia memiliki kelebihan dalam kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya dalam memahami konteks, budaya, dan situasi tertentu dalam terjemahan. Penerjemah manusia dapat memberikan hasil terjemahan yang lebih akurat dan sesuai dengan aturan tata bahasa dalam bahasa target. Penerjemah manusia juga dapat menyesuaikan hasil terjemahan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam teks terjemahan.

Kendala yang dihadapi oleh penerjemah manusia adalah keterbatasan waktu dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan mesin penerjemah. Penerjemah manusia membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses penerjemahan, dan biaya terjemahan juga lebih mahal karena membutuhkan biaya kerja dan profesionalisme dari penerjemah.

Oleh karena itu, meskipun kemampuan mesin penerjemah terus meningkat, penerjemah manusia tetap menjadi pilihan yang lebih baik dalam hal penerjemahan yang kompleks dan terkait dengan konteks. Mesin penerjemah tidak dapat menangkap nuansa dan konteks yang lebih luas dalam bahasa asli dan dapat menyebabkan kesalahan dan kekeliruan dalam hasil terjemahan. Penerjemah manusia dapat membantu menghindari kesalahan tersebut dan dapat menyesuaikan terjemahan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.

Pengaruh Mesin Penerjemah pada Profesi Penerjemah

Mesin penerjemah telah mempengaruhi profesi penerjemah dalam beberapa aspek, terutama dalam hal biaya dan waktu. Perusahaan dan organisasi cenderung lebih memilih penggunaan mesin penerjemah dalam proses penerjemahan karena biaya yang lebih murah dan waktu yang lebih cepat dalam proses terjemahan. Namun, penggunaan mesin penerjemah juga dapat mengancam eksistensi profesi penerjemah, khususnya bagi penerjemah yang bekerja dalam bidang teks yang lebih sederhana dan kurang kompleks.

Profesi penerjemah akan terus dibutuhkan di masa depan, meskipun terdapat kemajuan dalam teknologi mesin penerjemah. Mesin penerjemah hanya dapat membantu penerjemah manusia dalam proses penerjemahan dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran penerjemah manusia. Penerjemah manusia tetap dibutuhkan dalam proses penerjemahan yang membutuhkan analisis dan interpretasi konteks dan budaya dalam bahasa asli dan bahasa target. Penerjemah manusia juga dibutuhkan dalam penerjemahan yang memerlukan ketepatan dan ketelitian dalam menghasilkan terjemahan yang akurat dan jelas.

Hermeneutika dan Orientasi Penafsiran Penerjemahan (Bagian 1)

Harris Hermansyah Setiajid

Universitas Sanata Dharma

Anggota JLTC No. 0039

Hermeneutika berkembang menjadi pendekatan dalam berbagai bidang ilmu tak lama sejak kelahirannya. Dunia akademik membutuhkan pendekatan yang bisa mengurai kekusutan sebuah teks dengan cara menelusuri asal-usulnya. Hermeneutika dianggap bisa menjawab kebutuhan adanya pendekatan filosofis yang mampu menelisik teks secara komprehensif agar pemahaman terhadap teks tersebut bisa utuh.

Hermeneutika, secara singkat, dapat didefinisikan sebagai ilmu dan metodologi untuk menafsirkan teks. Latar belakang filosofis yang mendasari hermeneutika ditunjukkan oleh para pelopor di bidang ini seperti Gadamer. Menurut Gadamer (1960), kata-kata, yaitu pembicaraan, percakapan, dialog, tanya jawab, menghasilkan pemahaman. Berbeda dengan pandangan tradisional Aristoteles tentang bahasa, yaitu bahwa kata yang diucapkan mewakili gambaran mental, dan kata tertulis merupakan simbol untuk kata yang diucapkan, perspektif Gadamerian tentang linguistik menekankan kesatuan mendasar antara bahasa dan keberadaan manusia. Penafsiran tidak pernah dapat dipisahkan dari bahasa atau objektivitas. Karena bahasa datang kepada manusia dengan makna, interpretasi dan pemahaman tentang dunia tidak akan pernah bisa bebas prasangka. Sebagai manusia, seseorang tidak dapat keluar dari bahasa dan melihat bahasa atau dunia dari beberapa sudut pandang objektif. Bahasa bukanlah alat yang dimanipulasi manusia untuk mewakili dunia yang penuh makna; sebaliknya, bahasa membentuk realitas manusia (Bullock, 1997).

Penerjemah sebagai penafsir teks sumber

Tokoh penting lainnya dalam bidang  hermeneutika ini adalah Schleiermacher yang konsep pemahamannya mencakup empati serta analisis linguistik intuitif. Dia percaya bahwa pemahaman tidak hanya menguraikan informasi yang dikodekan, tetapi bahwa penafsiran dibangun di atas pemahaman, dan memiliki momen gramatikal, serta psikologis. Dorongan gramatikal menempatkan teks dalam sastra (atau bahasa) tertentu dan secara timbal balik menggunakan teks untuk mendefinisikan kembali karakter sastra itu. Dorongan psikologis lebih naif dan linier. Di dalamnya, penafsir merekonstruksi dan menjelaskan motif subjek dan asumsi implisit. Jadi Schleiermacher (1998) mengklaim bahwa seorang penafsir yang sukses dapat memahami penulis dengan baik, sebagaimana atau bahkan lebih baik daripada, penulis memahami dirinya sendiri karena interpretasi menyoroti motif dan strategi tersembunyi.

Dilthey (2002), awalnya pengikut Schleiermacher, melangkah lebih jauh. Dia menekankan bahwa teks dan tindakan adalah produk dari waktu teks sebagai ekspresi individu, dan makna teks  dibatasi oleh orientasi nilai-nilai masa itu dan pengalaman penulis teks tersebut. Oleh karena itu, makna digambarkan oleh pandangan dunia penulis yang mencerminkan periode sejarah dan konteks sosial. Pemahaman (verstehen), yang menjadi dasar hermeneutika metodologis, melibatkan penelusuran lingkaran dari teks ke biografi penulis dan keadaan sejarah. Penafsiran, atau penerapan sistematis pemahaman terhadap teks, merekonstruksi dunia tempat teks diproduksi dan bagaimana teks diposisikan.

Ide-ide modern tentang hermeneutika mengatakan bahwa penulis dapat menjadi editor sekaligus redaktur. Dalam mempertimbangkan aspek wacana ini, seseorang harus mempertimbangkan tujuan penulis ketika  menulis lingkungan budayanya. Kedua, kita harus mempertimbangkan narator dalam tulisan yang biasanya berbeda dari penulis. Terkadang dia adalah orang yang nyata, terkadang fiksi. Penerjemah harus menentukan tujuannya berbicara dan lingkungan budayanya, dengan mempertimbangkan fakta bahwa ia mungkin ada di mana-mana dan mahatahu. Penerjemah juga harus mempertimbangkan narator dalam cerita dan bagaimana dia mendengar. Dan, penerjemah harus memperhitungkan orang yang dituju tulisan tersebut; pembaca, tidaklah selalu sama dengan orang yang dituju tulisan tersebut. Ketiga, Penerjemah harus mempertimbangkan latar penulisan, genre (apakah puisi, narasi, nubuat, dll), kiasan; perangkat yang digunakan, dan, akhirnya, plot (Hanko, 1991).

Penafsiran tidak pernah dapat dipisahkan dari bahasa atau objektivitas. Karena bahasa datang kepada manusia dengan makna, interpretasi dan pemahaman tentang dunia tidak akan pernah bisa bebas prasangka. Sebagai manusia, seseorang tidak dapat keluar dari bahasa dan melihat bahasa atau dunia dari beberapa sudut pandang objektif. Bahasa bukanlah alat yang dimanipulasi manusia untuk mewakili dunia yang penuh makna; sebaliknya, bahasa membentuk realitas manusia.

Dengan demikian hermeneutika memberi batas antara penerjemah dan hasil terjemahannya. Bahkan, penerjemah bisa menjadi entitas tersendiri yang mungkin terpisah dari penulis teks sumbernya. Artinya, hasil alih bahasa yang dilakukan penerjemah merupakan penafsiran terhadap teks sumber.

Nah, selanjutnya bagaimana orientasi penafsiran penerjemahan itu? Ikuti di Bagian 2!

Referensi

Bullock, J. F. (1997). "Preaching in a Postmodern World: Gadamer's Philosophical Hermeneutics as Homiletical Conversation"

Dilthey, W. (2002). The Formation of the Historical World in the Human Sciences. Makkreel, R. A. and Rodi, F. (eds.). Princeton University Press.

Hanko, H.C. (1990, 1991). "Issues in Hermeneutics". Protestant Reformed Theological Journals. April and November, 1990, and April and November, 1991.

Schleiermacher, F. (1998). Hermeneutics and Criticism. Bowie, A. (ed. and trans.). Cambridge University Press.