jltc

Mengintip Cara Universitas Australia Mengajarkan Translation Studies

Harris Hermansyah Setiajid

Pemerhati Penerjemahan

JLTC 0039


Estimasi waktu baca 2-3 menit

Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, didukung Jogja Literary Translation Club (JLTC), kembali menghadirkan ruang diskusi akademik melalui Weekend Talk Translation Research Class bertajuk Translation Studies in Australian Universities. Kegiatan ini akan diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada 23 Mei 2026 pukul 10.00–12.00 WIB, dengan menghadirkan Widyasanti A. Pirenaningtyas, lulusan Master of Translation and Interpreting Studies dari University of New South Wales (UNSW) sekaligus awardee LPDP.

Di tengah berkembangnya teknologi bahasa, kecerdasan buatan, dan komunikasi lintas budaya, penelitian penerjemahan tidak lagi dipandang sekadar sebagai kajian tentang “mengalihkan bahasa.” Translation Studies kini bergerak menjadi disiplin multidisipliner yang menyentuh linguistik, budaya, media digital, teknologi, hingga isu etika dan politik bahasa. Australia menjadi salah satu negara yang memperlihatkan perkembangan menarik dalam bidang ini.

Universitas-universitas di Australia dikenal memiliki pendekatan yang kuat dalam menghubungkan teori dan praktik penerjemahan. Program di UNSW, misalnya, menekankan proyek penerjemahan nyata, riset independen, serta pengembangan kemampuan analitis dan manajemen proyek dalam konteks profesional.

Sementara itu, Monash University mengintegrasikan praktik industri, metodologi penelitian, dan pelatihan profesional dalam bidang penerjemahan dan penjurubahasaan, termasuk audiovisual translation, legal translation, dan community interpreting.

Hal yang membuat Australia menarik bukan hanya kualitas akademiknya, melainkan juga konteks sosialnya. Sebagai negara multikultural dengan populasi migran yang besar, kebutuhan terhadap penerjemahan dan interpreting hadir dalam kehidupan sehari-hari: rumah sakit, pengadilan, layanan publik, pendidikan, hingga media. Karena itu, banyak penelitian penerjemahan di Australia berkembang dari persoalan nyata di lapangan, bukan hanya dari perdebatan teoretis di ruang kelas.

RMIT University, misalnya, menaruh perhatian besar pada hubungan antara translation studies, media, teknologi, dan komunikasi digital. Pendekatan mereka menunjukkan bahwa penerjemah masa kini tidak hanya bekerja dengan teks, melainkan juga dengan platform, audiens, dan teknologi komunikasi yang terus berubah.

Di sisi lain, perkembangan machine translation dan AI juga mulai menjadi bagian penting dalam penelitian translation studies di Australia. Sejumlah peneliti dari University of Sydney bahkan terlibat dalam pengembangan sistem machine translation berbasis Transformer yang digunakan dalam kompetisi internasional penerjemahan mesin.

Dalam beberapa tahun terakhir, arah penelitian translation studies di Australia juga semakin kritis dan reflektif. Kajian tidak lagi hanya bertanya apakah terjemahan “akurasi” atau “setara,” melainkan juga siapa yang memiliki kuasa dalam proses penerjemahan, bagaimana identitas budaya dinegosiasikan, dan bagaimana teknologi memengaruhi keputusan penerjemah. Nama-nama seperti Anthony Pym, salah satu tokoh penting dalam Translation Studies yang memiliki relasi akademik kuat dengan Australia, ikut memberi pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran ini.

Melalui kegiatan ini, peserta akan diajak melihat lebih dekat bagaimana translation studies dipelajari dan diteliti di universitas-universitas Australia: mulai dari kultur akademiknya, pendekatan riset yang digunakan, hingga tantangan yang dihadapi mahasiswa internasional di lingkungan riset global. Diskusi ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai kemungkinan pengembangan studi penerjemahan di masa depan, termasuk peluang studi lanjut dan arah riset kontemporer dalam bidang Translation Studies..

Acara ini juga menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk memahami bahwa penelitian penerjemahan bukanlah bidang yang sempit atau statis. Ia terus bergerak mengikuti perubahan dunia, dan justru karena itu, Translation Studies menjadi semakin relevan hari ini

Para Jawara Translation Olympiad #1 yang Wajib Kamu Kenal!

Tim Translation Olympiad #1

Estimasi waktu baca: 2-3 menit

Gelombang baru dunia penerjemahan lahir dari tangan-tangan muda yang penuh bakat, keberanian, dan kecintaan pada bahasa. Translation Olympiad #1, ajang berskala nasional yang diselenggarakan untuk merayakan Hari Penerjemahan Internasional oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan Jogja Literary Translation Club, telah resmi menutup babak penilaiannya. Para pemenang akhirnya diumumkan, dan hasilnya sungguh menunjukkan bahwa masa depan dunia terjemahan berada di tangan yang tepat.

Kompetisi ini mencakup tiga kategori utama: Haiku Translation, Short Story Translation, dan Bilingual Children’s Story Writing. Setiap kategori menyimpan tantangan yang berbeda, dari memindahkan keheningan haiku ke dalam bahasa Indonesia, menerjemahkan ketegangan naratif cerita pendek, hingga menulis cerita anak dwibahasa yang imajinatif dan mudah dipahami pembaca cilik. Ratusan naskah masuk dari seluruh Indonesia, dan para juri harus melalui proses penilaian yang ketat sebelum menentukan siapa yang layak menyandang gelar juara.

Haiku Translation: Ketepatan, Kejernihan, dan Jiwa Bahasa

Pada kategori ini, para peserta ditantang merangkai kembali kehalusan haiku dengan kesetiaan rasa dan kepekaan estetika.

Kategori Pelajar/Mahasiswa menghadirkan tiga nama yang berhasil merebut hati juri:

  1. Josephine Valencia Widjaja (Bandung) – Juara 1
  2. Evangeline Budiman (Yogyakarta) – Juara 2
  3. Amelia Oentari (Yogyakarta) – Juara 3

Sementara itu, Kategori Umum menampilkan persaingan yang tak kalah ketat:

  1. Widyasanti Pirenaningtyas (Jakarta) – Juara 1
  2. Nadawutu Purnayoga (Kebumen) – Juara 2
  3. Katherine Dinda (Yogyakarta) – Juara 3

Para pemenang ini menunjukkan bagaimana tiga baris pendek bisa menjadi ladang kreativitas tanpa batas, tempat nuansa dan emosi diolah dengan begitu halus.

Short Story Translation: Ketika Narasi Melampaui Bahasa

Tantangan terbesar dalam menerjemahkan cerita pendek adalah menjaga alur, emosi, dan gaya penulis sambil tetap memastikan keharmonisan bahasa sasaran.

Dalam Kategori Pelajar/Mahasiswa, gelar juara diraih oleh:

  1. Yukiko Elfa (Boyolali) – Juara 1
  2. Maharani Kunthi (Yogyakarta) – Juara 2
  3. Zahra Nurfitri Laila (Purwokerto) – Juara 3

Sementara itu, Kategori Umum menghadirkan tiga nama yang tak hanya kuat dalam teknik tetapi juga kaya dalam interpretasi:

  1. Maria Eka Putri (Yogyakarta) – Juara 1
  2. Widyasanti Pirenaningtyas (Jakarta) – Juara 2
  3. Ardiani Nur Fadhila (Sleman) – Juara 3

Para pemenang ini bukan hanya menerjemahkan cerita, mereka menghidupkannya kembali dalam medium bahasa yang berbeda.

Bilingual Children’s Story Writing: Imajinasi Tanpa Batas untuk Pembaca Cilik

Kategori penulisan cerita anak dwibahasa menyita perhatian juri karena kreativitas para peserta benar-benar meledak. Dari angsa berbuluh perak hingga perjalanan warna kulit, karya-karya yang masuk begitu kaya makna sekaligus ramah bagi anak-anak. Karya yang masuk sangat banyak sehingga proses penilaian tim juri berlangsung cukup lama diwarnai adu argumentasi yang hangat karena tipisnya selisih skor yang diperoleh para peserta.

Akhirnya, diperoleh daftar juara sebagai berikut:

  1. Callista Josephine Tanosa – The Silver Feathered Swan
  2. Yusa Syifa Hudoyo – Kaleidoscope
  3. Imanina Resti Sujarwanto – Ada Apa dengan Warna Kulitku
  4. Hanifah Salsabila – Sayap Sang Malaikat dan Hati Si Pencuri

Kategori ini juga unik karena dua peserta berhasil meraih Juara 2 (Yusa Syifa Hudoyo dan Imanina Resti Sujarwo). Setelah proses tie-break yang cukup lama, juri tidak berhasil menentukan mana yang lebih baik menunjukkan karena keduanya memperoleh skor yang sama kuat. Keputusan untuk memberikan dua pemenang adalah bentuk apresiasi terhadap kualitas karya yang sama-sama layak dipuji.

Gerakan Menghidupkan Dunia Penerjemahan Indonesia

Translation Olympiad #1 bukan sekadar lomba. Ia adalah panggung yang menghadirkan wajah baru penerjemahan Indonesia, lebih berani, lebih kreatif, dan lebih siap menghadapi dunia global. Para peserta menunjukkan bahwa penerjemahan bukan lagi dianggap sekadar alih bahasa, tetapi sebuah seni, sebuah keahlian intelektual, dan bahkan sebuah jembatan budaya.

Melihat hasil karya para pemenang, satu hal menjadi jelas: generasi baru penerjemah Indonesia telah lahir, dan mereka membawa semangat, kecerdasan, serta visi yang segar dan menginspirasi.

Kami di JLTC bangga menjadi bagian dari perjalanan mereka. Semoga kehadiran Translation Olympiad #1 menjadi awal dari tradisi panjang kompetisi penerjemahan di Indonesia, yang bukan hanya melahirkan juara, tetapi juga membangun ekosistem literasi bahasa yang lebih kuat.

Selamat kepada para pemenang! Dunia penerjemahan menanti karya-karya hebat kalian berikutnya.