Saat Pengarang Menerjemahkan Dirinya Sendiri

Harris Hermansyah Setiajid

Pemerhati Penerjemahan

JLTC 0039


Estimasi waktu baca 2-3 menit

Di tengah arus globalisasi sastra dan semakin cairnya batas antarbahasa, praktik self-translation atau penerjemahan oleh pengarang sendiri menjadi salah satu isu paling menarik dalam studi penerjemahan kontemporer. Fenomena menunjukkan mengerucutnya aktivitas linguistik sekaligus tindakan kreatif, negosiasi identitas, bahkan strategi estetik seorang penulis dalam menghadirkan dirinya kepada pembaca lintas budaya. 

Isu itulah yang akan menjadi fokus dalam Seminar Nasional Penerjemahan Sastra 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan Jogja Literary Translation Club (JLTC).

Mengusung tema Self-Translation dan Kepengarangan Dwibahasa”, seminar ini akan berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Ruang Seminar Driyarkara, Auditorium Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tema tersebut terasa sangat relevan di tengah meningkatnya praktik penulisan dwibahasa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. 

Banyak pengarang kini tidak lagi menunggu karyanya diterjemahkan oleh pihak lain. Mereka memilih menulis ulang, memodifikasi, bahkan “menciptakan kembali” karya mereka sendiri dalam bahasa kedua. Dalam konteks seperti itu, pertanyaan tentang kesetiaan teks, otoritas pengarang, dan posisi penerjemah menjadi semakin kompleks.

Diskusi ini akan menghadirkan dua narasumber dengan latar yang saling melengkapi: praktik sastra dan kajian akademik.

Dalih Sembiring dikenal luas sebagai penerjemah sastra, penulis, sekaligus mantan jurnalis budaya. Namanya mendapat perhatian internasional setelah terlibat dalam penerjemahan Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan yang masuk longlist Man Booker International Prize 2016. Selain aktif menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris, ia juga menulis kritik dan esai budaya secara konsisten. Latar jurnalistiknya di The Jakarta Post dan Jakarta Globe membentuk sensitivitas khas terhadap ritme bahasa, nuansa budaya, serta suara naratif dalam teks sastra.

Kehadiran Dalih penting karena pembahasan mengenai self-translation tidak cukup dibicarakan secara teoretis. Dalam praktik penerjemahan sastra, seorang penerjemah kerap berada di wilayah abu-abu antara kesetiaan dan penciptaan ulang. Pengalamannya sebagai penerjemah karya sastra Indonesia untuk pembaca global memberi perspektif konkret tentang bagaimana identitas budaya dinegosiasikan dalam bahasa lain.

Sementara itu, Nur Saptaningsih dari Universitas Sebelas Maret akan menghadirkan dimensi akademik yang kuat dalam seminar ini. Ia dikenal aktif meneliti bidang translation studies, takarir, budaya, dan sastra, dengan publikasi serta rekam akademik yang konsisten di bidang penerjemahan. Minat risetnya mencakup penerjemahan istilah teknis, sastra anak, praktik penerjemahan, hingga kajian ideologi dalam terjemahan.

Dalam perkembangan studi penerjemahan modern, pembicaraan mengenai self-translation memang telah bergerak jauh dari perdebatan lama tentang “tepat” atau “tidak tepat”. Para peneliti kini melihat penerjemahan sebagai ruang produksi makna baru. Ketika seorang pengarang menerjemahkan karyanya sendiri, teks hasil terjemahan sering kali tidak lagi menjadi “salinan”, melainkan versi alternatif yang memiliki otonomi artistik sendiri. Perspektif seperti ini membuka diskusi yang sangat menarik bagi mahasiswa, peneliti, penerjemah, maupun penulis kreatif.

Seminar ini akan dimoderatori oleh Almira Romala, CEO JLTC, yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan ruang belajar penerjemahan berbasis komunitas di Yogyakarta. Kehadiran moderator dari kalangan praktisi komunitas memberi warna tersendiri karena diskusi tidak akan berhenti di wilayah akademik, melainkan juga menyentuh realitas industri dan ekosistem penerjemahan sastra di Indonesia hari ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, seminar dan forum penerjemahan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin serius, baik di lingkungan kampus maupun komunitas profesional. Isu-isu seperti ideologi penerjemahan, penerjemahan sastra, takarir, hingga relasi penerjemahan dan Akal Imitasi (AI, artificial intelligence) semakin sering menjadi perhatian akademik nasional. Namun demikian, pembahasan khusus mengenai self-translation masih relatif jarang disentuh secara mendalam. Karena itu, seminar ini menjadi momentum penting untuk memperluas percakapan tentang posisi pengarang, bahasa, dan identitas dalam sastra kontemporer.

Bagi siapa pun yang tertarik pada sastra, penerjemahan, penulisan kreatif, maupun dinamika bahasa dalam dunia global, seminar ini menawarkan ruang diskusi yang  akademis sekaligus juga reflektif dan relevan dengan perkembangan praktik sastra mutakhir.

Daftar di sini.