May 17, 2026

Penerjemahan Sastra Bukan Sekadar Alih Bahasa. Lalu Apa?

Harris Hermansyah Setiajid

Pemerhati Penerjemahan

JLTC 0039


Estimasi waktu baca 2-3 menit

Di tengah maraknya Akal Imitasi (AI, artificial intelligence) dan mesin penerjemah otomatis, penerjemahan sastra justru menjadi semakin penting untuk dipelajari secara serius. Sebab sastra tidak hanya berbicara tentang makna kata, melainkan juga emosi, ritme, suasana, ironi, bahkan “jiwa” sebuah teks. Kalimat sederhana dalam novel atau puisi dapat membawa lapisan makna budaya yang tidak bisa dipindahkan begitu saja secara harfiah. Karena itulah penerjemah sastra dituntut  mampu memahami bahasa sekaligus membaca manusia, konteks, dan rasa.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Pelatihan Penerjemahan Sastra 2026: Pengantar Penerjemahan Sastra oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, yang didukung sepenuhnya oleh Jogja Literary Translation Club (JLTC). Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 12.00–13.30 WIB melalui Zoom Meeting, dan terbuka untuk mahasiswa maupun masyarakat umum.

Pelatihan ini menghadirkan Yusuf A. Neno, penerjemah lepas dan pemerhati sastra, dengan moderator Joy Tiffany. Acara ini dirancang khusus untuk pemula yang ingin memahami dunia penerjemahan sastra secara lebih dekat, tanpa harus merasa “sudah ahli” terlebih dahulu. Banyak orang tertarik menerjemahkan novel, cerpen, atau puisi, tetapi bingung harus mulai dari mana. Pelatihan ini hadir sebagai ruang awal untuk memahami dasar-dasarnya secara lebih terarah.

Dalam praktiknya, penerjemahan sastra sering dianggap sebagai salah satu bidang penerjemahan yang paling menantang. Sejumlah kajian menyebut bahwa tantangan terbesar terletak pada bagaimana penerjemah menjaga keseimbangan antara akurasi makna dan keindahan bahasa. Sebuah metafora yang terasa alami dalam bahasa sumber belum tentu memiliki efek emosional yang sama ketika dipindahkan ke bahasa lain. Demikian pula idiom, dialog, atau referensi budaya sering kali menuntut keputusan kreatif dari penerjemah.

Bagi penerjemah pemula, tantangan itu biasanya terasa lebih konkret. Keterbatasan kosakata, kecenderungan menerjemahkan terlalu harfiah, hingga kesulitan menjaga gaya penulis menjadi persoalan yang umum ditemui. Banyak penerjemah muda juga terjebak pada anggapan bahwa menerjemahkan berarti sekadar “mengganti bahasa”. Padahal dalam sastra, penerjemah sesungguhnya sedang membangun ulang pengalaman membaca dalam bahasa yang berbeda.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan dinamika baru. Mesin penerjemah kini semakin cepat dan praktis, tetapi berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerjemahan sastra tetap membutuhkan sensitivitas manusia. AI dapat membantu sebagai alat pendukung, namun belum mampu sepenuhnya menangkap nuansa kreatif, ambiguitas emosional, atau gaya artistik yang menjadi inti karya sastra.

Karena itu, belajar penerjemah sastra wajib menguasai  teknik bahasadan dituntut untuk membaca secara lebih dalam: memahami konteks budaya, mendengar suara penulis, dan mempertimbangkan bagaimana pembaca baru akan menerima teks tersebut. Dalam proses itu, penerjemah belajar menjadi pembaca yang lebih peka sekaligus penulis yang lebih sadar terhadap pilihan kata.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memperoleh gambaran awal tentang dunia penerjemahan sastra, berbagai tantangan yang dihadapi penerjemah, serta pendekatan-pendekatan praktis yang dapat digunakan ketika mulai menerjemahkan karya sastra. Acara ini juga menjadi kesempatan untuk berdiskusi langsung mengenai pengalaman di lapangan, termasuk realitas profesi penerjemah sastra di era digital saat ini.

Bagi siapa pun yang pernah jatuh cinta pada novel, puisi, atau cerita pendek, lalu diam-diam bertanya, “Bagaimana rasanya membawa teks ini ke bahasa lain?”, pelatihan ini bisa menjadi langkah pertama yang menarik.