Jogja Literary Translation Club

6-6-6

Christien Yueni

Jogja Literary  Translation Club

Hari ini tepat 6 tahun lalu, Jogja Literary Translation Club  (JLTC) mulai menapakkan kakinya, mencoba menemukan eksistensinya di tengah dunia yang makin ramai dan gaduh. Menemukan eksistensi dan niche dalam dunia yang semakin penuh ini sangat tidak mudah karena banyak celah telah terjembatani dan ceruk telah terisi. Namun, pemilihan penerjemahan sastra sebagai inti dari perkumpulan ini tampaknya telah menghasilkan buah yang patut disyukuri. Di tengah laju perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial, aktivitas penerjemahan mulai terambil oleh mesin. Penerjemahan sastra yang disebut sebagai benteng terakhir penerjemahan manusia seolah menegaskan relevansi misi dan visi JLTC.

Tulisan berikut ini  mencoba merekonstruksi perjalanan JLTC dari awal berdirinya 06-6-2016 hingga hari ini 06-06-2022 dengan membuat periodisasi JLTC, yaitu formatif, eksploratif, dan integratif.

Periode formatif

Periode ini menjadi basis berdirinya JLTC. Ditandai dengan diselenggarakannya kegiatan lokakarya penerjemahan sastra yang dipimpin oleh Rosemary Kesauly, JLTC mulai memperkenalkan dirinya menjadi sebuah perkumpulan yang ditujukan sebagai ajang bagi para penerjemah pemula untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman menerjemahkan. 

Perkumpulan penerjemah sebetulnya sudah banyak berdiri dan mapan. Namun, untuk mewadahi para penerjemah pemula yang kadang masih ragu untuk bergabung ke dalam perkumpulan penerjemah mapan diperlukan semacam bridging agar bisa lebih percaya diri. Periode formatif ini merupakan momen bagi JLTC untuk membentuk dirinya, melihat yang bisa dilakukan, dan merencanakan langkah selanjutnya berdasarkan evaluasi.

Periode formatif ini menjadi tahun-tahun yang cukup berat bagi JLTC terutama terkait masalah kontinuitas pendanaan dan kegiatan yang bisa dilakukan. Namun, dukungan dari para anggota awal  JLTC membuat perjalanan formatif ini mulai menemukan momentumnya. Didukung penuh oleh Prodi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, JLTC memulai kegiatannya yang berskala nasional dengan menyelenggarakan seminar penerjemahan pertama bertema “Menilik Ulang Teori dan Praktik Penerjemahan.” Kesuksesan acara ini menebalkan keyakinan  kami bahwa kami telah berada di jalur yang tepat. Kekhawatiran tentang bagaimana format JLTC mulai menemukan penenangnya.

Periode eksploratif

Dengan keyakinan diri yang makin tebal seiring dengan makin banyaknya minat untuk menjadi anggota, JLTC mulai merancang acara dan juga konten-konten media sosial untuk menegaskan postur JLTC sebagai sebuah perkumpulan penerjemah yang bisa ikut berbicara dan menyumbang demi kemaslahatan dunia penerjemahan. Pada periode ini, yang kami sebut juga sebagai periode coba-coba, kami melebarkan ‘sayap’ dengan merambah bidang-bidang yang secara langsung tidak terkait dengan penerjemahan, seperti acara ‘JLTC Education’, dan bahkan ‘JLTC Extended’, sebuah acara yang sangat jauh dari rel penerjemahan! Periode eksploratif ini membuka mata kami, sebenarnya banyak bidang yang bisa kami rambah, namun keterbatasan tenaga  membuat keajegan acara tidak bisa terjaga. Dalam evaluasi ditemukan bahwa kegiatan yang tidak begitu terkait dengan penerjemahan akan menguras tenaga dan membuyarkan konsentrasi kami untuk mengadvokasi para penerjemah. Bergabungnya para penerjemah kawakan menjadi anggota JLTC membuat kami menyadari bahwa kami memiliki aset yang sangat berharga yang bisa kami manfaatkan untuk mengadvokasi penerjemah pemula sekaligus menyumbang bagi perkembangan penerjemahan. Dalam periode eksploratif ini, JLTC mengundang para pembicara berkaliber internasional seperti John McGlynn (Lontar Foundation), Haru Deliana Dewi (Universitas Indonesia), dan Dono Sunardi (Universitas Ma Chung). Kehadiran para pakar dalam seminar yang diselenggarakan JLTC dan disambut secara antusias mewarnai periode ini.

Periode integratif

Pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020 mengacaukan semua rancangan acara yang disusun JLTC untuk mengembangkan dirinya. Namun, pandemi ini juga memaksa kami untuk membuat acara yang bisa dilakukan secara jarak jauh. Selain itu, pandemi ini juga semakin menyadarkan kami pentingnya situs web sebagai anchor bagi semua media sosial JLTC. Situs web ini berisi ‘Kontribusi Komunitas’ yang berisi artikel-artikel tulisan para anggota JLTC, ‘Teori Penerjemahan’ yang mengulas teori penerjemahan secara ringkas dan mudah dipahami, hasil penelitian terjemahan para anggota JLTC, dan Direktori Penerjemah JLTC yang memudahkan klien untuk mencari penerjemah yang mereka ingini. Untuk mengatasi kekosongan akibat batalnya berbagai acara yang kami susun, kami membuat acara interaktif agar JLTC tetap dekat di hati anggota sambil sekaligus reaching out  kepada calon anggota. Acara ‘Yemi & the Alumni’ hadir mengisi kekosongan tersebut dengan mengundang alumni yang bekerja di beragam bidang pekerjaan. Untuk mengakomodasi dan semakin mengenalkan anggota JLTC kami membuat acara ‘Emerging Translator’. Periode integratif ini juga membuat kami untuk kembali ke bisnis inti kami, yaitu penerjemahan. Beberapa kegiatan yang tak lagi terkait dengan penerjemahan kami hapus. JLTC juga merasa perlu untuk mengukuhkan dirinya sebagai badan hukum untuk membuat langkah-langkah kami lebih legal. Pada tanggal 21 Desember 2021 JLTC diakui keberadaannya oleh negara dengan terbitnya SK Menkumham RI. Berbekal SK tersebut JLTC bisa melapangkan geraknya dan kini bisa merambah ke bisnis penerbitan buku. Periode integratif ini menjadi momen penting bagi JLTC untuk kembali ke khittah-nya sebagai perkumpulan penerjemah.

Hari ini tanggal 6 bulan 6, JLTC tepat berusia 6 tahun. Angka 666 dalam Kekristenan, seperti termuat dalam Kitab Wahyu Bab 13, dipercaya sebagai the number of beasts, makhluk jahat (atau Antikristus) yang akan muncul menjelang hari kiamat. Namun, bagi kami di JLTC, angka 666 adalah angka yang harus kami syukuri, karena kami bisa survive and thrive, semakin kuat dan percaya diri untuk melangkah ke tahun-tahun selanjutnya yang kami percaya akan semakin banyak tantangan dan hambatan.

Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh anggota JLTC yang selalu setia dan mendukung keberlangsungan perkumpulan ini. Teriring salam hangat dari kami pengurus JLTC.

Perkembangan Skopostheorie: Lahirnya pendekatan fungsional Christiane Nord (1988)

Harris Hermansyah Setiajid

Penikmat Buku-buku Terjemahan

Anggota JLTC No. 0039

Christiane Nord adalah salah satu teoretikus penerjemahan yang membela Skopostherie. Dalam berbagai kesempatan, Nord memberikan semacam perbaikan dan pengembangan terhadap Skopostherie.  Kritikan terhadap Skopostheorie dijawab oleh Nord dalam bukunya Text Analysis in Translation (1988) yang mengatakan, “walaupun tujuan atau fungsionalitas TSa menjadi kriteria utama sebuah terjemahan, penerjemah tetap tidak diizinkan untuk berbuat semaunya.” 

Untuk menjawab kritikan terhadap Skopostheorie, Nord membedakan antara loyalty (loyalitas) dan fidelity (kesetiaan). Dia mengatakan bahwa kesetiaan adalah konsep hubungan yang mengikat antara teks sumber dan sasaran, sementara loyalitas  merujuk pada kategori interpersonal antara manusia.

Nord menyebut prinsip tersebut sebagai “fungsionalitas plus loyalitas.” Dengan kata lain, loyalitas adalah tanggung jawab penerjemah kepada mitranya (“pemain” meminjam istilah Holz-Mänttäri). Penerjamah harus  bermain “cantik” antara mempertahankan loyalitasnya dan menjaga kesetiaan pada teks.

Selain itu, Nord juga membedakan antara penerjemahan dokumenter (documentary translation) dan penerjemahan instrumental (instrumental translation).

Penerjemahan Dokumenter: berperan sebagai dokumentasi komunikasi budaya sumber antara penulis dan pembaca TSu. Contoh dalam penerjemahan teks sastra, TSa memberikan akses kepada pembaca sasaran untuk mengenali budaya sumber seperti apa adanya, dan pembaca sasaran sadar bahwa yang dibacanya adalah teks terjemahan. Penerjemah memberikan warna “eksotik” kepada teks terjemahannya, misalnya dalam terjemahan cerpen-cerpen Ahmad Tohari, beberapa cultural item tidak diterjemahkan, e.g. mitoni, siraman, dsb.

Penerjemahan Instrumental: berperan sebagai instrumen transmisi pesan dalam budaya sasaran, yang dimaksudkan untuk memenuhi tujuan komunikatif sehingga pembaca tidak sadar sedang membaca teks terjemahan, atau seolah-olah sedang membaca teks yang ditulis dalam bahasa mereka sendiri. Nord menyebut ini sebagai function-preserving translation (bdk. konsep efek kesepadanan Nida). Namun, dia juga memberikan contoh teks terjemahan yang sama sekali berbeda dengan fungsi aslinya, seperti penerjemahan Gulliver’s Travel untuk buku cerita anak.

Nord ternyata tidak berhenti sampai di situ, dalam bukunya Translating as a Purposeful Activity (1997) ia mengajukan model yang lebih fleksibel yang menekankan pada 3 aspek utama, yaitu: (1) pentingnya translation commission (yang kemudian diistilahkannya sebagai translation brief), (2) peran analisis TSu, dan (3) hierarki fungsional masalah penerjemahan.

Pentingnya translation brief.

Sebelum analisis tekstual dilakukan, penerjemah perlu membandingkan profil  TSu dan TSa yang ditentukan dalam brief (commission) untuk mendapatkan informasi tentang (1) fungsi masing-masing teks, (2) penulis TSu dan penerima TSa, (3) tempat dan waktu saat penerjemahan dilakukan dan diterima pembaca, (4) media yang digunakan, (5) motif (mengapa TSu ditulis dan mengapa diterjemahkan).

Peran analisis teks sumber. 

Analisis TSu untuk memetakan (a) kelayakan penerjemahan, (2) butir TSu yang paling relevan yang perlu mendapatkan perhatian untuk mencapai terjemahan yang fungsional, (c) strategi penerjemahan yang diperlukan untuk memenuhi syarat di translation brief. Nord membuat daftar faktor intratekstual yang harus diperhatikan: (1) subjek penerjemahan, (2) isi, (3) presuposisi, (4) komposisi teks, (5) elemen non-verbal, (6) leksis, (7) struktur kalimat, (8) fitur suprasegmental.

Hierarki fungsional masalah penerjemahan.

Nord merekomendasikan hierarki fungsional saat melakukan penerjemahan, dengan pendekatan atas-bawah dimulai dari perspektif pragmatik dengan fungsi TSa yang diinginkan: (a) perbandingan fungsi TSu dan TSa untuk memutuskan tipe terjemahan yang akan dihasilkan (dokumenter atau instrumental), (b) analisis translation brief untuk menentukan elemen fungsional apa yang akan direproduksi atau diadaptasi sesuai dengan situasi/konteks pembaca sasaran, (c) masalah yang ditemui dalam teks bisa diatasi pada tataran linguistik mikro dengan menggunakan analisis intratekstual TSu.

Penekanan pada pentingnya pembaca sasaran ini membuat pendekatan fungsional, yang lahir dari penyempurnaan Skopostheorie yang disusun Vermeer dan Reiss, menjadi pijakan yang jelas bagi para penerjemah dalam menentukan orientasi terjemahannya. Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan fungsional ini membuka dan menjadi dasar bagi lahirnya teori-teori terjemahan lainnya.

Referensi

Hatim, Basil & Munday, Jeremy. (2004). Translation: An Advanced Resource Book. New York: Routledge.

Nord, Christiane (1988). Text Analysis in Translation: Theory,       Methodology, and Didactic Application of a Model for Translation-Oriented Text Analysis. Translated by Christiane Nord and Penelope Sparrow. 2nd edition. Amsterdam: Rodopi.

Nord, Christiane. (1997). Translating as a Purposeful Activity: Functionalist Approaches Explained. Manchester: St. Jerome.

Reiss, Katharina. (2004). ‘Type, kind and individuality of text: Decision making in translation’. Translated by Susan Kitron in Lawrence  Venuti (ed.). The Translation Studies Reader. 2nd edition. New York: Routledge.

Reiss, Katharina & Vermeer, Hans (2013). Towards a General Theory of Translational Action: Skopos Theory Explained. Translated by Christiane Nord. Manchester: St. Jerome.

Vermeer, Hans (2012). ‘Skopos and commission in  translational action’ in Venuti (ed). The Translation Studies Reader. 3rd edition. New York: Routledge.