Catatan Kami

Para Jawara Translation Olympiad #1 yang Wajib Kamu Kenal!

Tim Translation Olympiad #1

Estimasi waktu baca: 2-3 menit

Gelombang baru dunia penerjemahan lahir dari tangan-tangan muda yang penuh bakat, keberanian, dan kecintaan pada bahasa. Translation Olympiad #1, ajang berskala nasional yang diselenggarakan untuk merayakan Hari Penerjemahan Internasional oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan Jogja Literary Translation Club, telah resmi menutup babak penilaiannya. Para pemenang akhirnya diumumkan, dan hasilnya sungguh menunjukkan bahwa masa depan dunia terjemahan berada di tangan yang tepat.

Kompetisi ini mencakup tiga kategori utama: Haiku Translation, Short Story Translation, dan Bilingual Children’s Story Writing. Setiap kategori menyimpan tantangan yang berbeda, dari memindahkan keheningan haiku ke dalam bahasa Indonesia, menerjemahkan ketegangan naratif cerita pendek, hingga menulis cerita anak dwibahasa yang imajinatif dan mudah dipahami pembaca cilik. Ratusan naskah masuk dari seluruh Indonesia, dan para juri harus melalui proses penilaian yang ketat sebelum menentukan siapa yang layak menyandang gelar juara.

Haiku Translation: Ketepatan, Kejernihan, dan Jiwa Bahasa

Pada kategori ini, para peserta ditantang merangkai kembali kehalusan haiku dengan kesetiaan rasa dan kepekaan estetika.

Kategori Pelajar/Mahasiswa menghadirkan tiga nama yang berhasil merebut hati juri:

  1. Josephine Valencia Widjaja (Bandung) – Juara 1
  2. Evangeline Budiman (Yogyakarta) – Juara 2
  3. Amelia Oentari (Yogyakarta) – Juara 3

Sementara itu, Kategori Umum menampilkan persaingan yang tak kalah ketat:

  1. Widyasanti Pirenaningtyas (Jakarta) – Juara 1
  2. Nadawutu Purnayoga (Kebumen) – Juara 2
  3. Katherine Dinda (Yogyakarta) – Juara 3

Para pemenang ini menunjukkan bagaimana tiga baris pendek bisa menjadi ladang kreativitas tanpa batas, tempat nuansa dan emosi diolah dengan begitu halus.

Short Story Translation: Ketika Narasi Melampaui Bahasa

Tantangan terbesar dalam menerjemahkan cerita pendek adalah menjaga alur, emosi, dan gaya penulis sambil tetap memastikan keharmonisan bahasa sasaran.

Dalam Kategori Pelajar/Mahasiswa, gelar juara diraih oleh:

  1. Yukiko Elfa (Boyolali) – Juara 1
  2. Maharani Kunthi (Yogyakarta) – Juara 2
  3. Zahra Nurfitri Laila (Purwokerto) – Juara 3

Sementara itu, Kategori Umum menghadirkan tiga nama yang tak hanya kuat dalam teknik tetapi juga kaya dalam interpretasi:

  1. Maria Eka Putri (Yogyakarta) – Juara 1
  2. Widyasanti Pirenaningtyas (Jakarta) – Juara 2
  3. Ardiani Nur Fadhila (Sleman) – Juara 3

Para pemenang ini bukan hanya menerjemahkan cerita, mereka menghidupkannya kembali dalam medium bahasa yang berbeda.

Bilingual Children’s Story Writing: Imajinasi Tanpa Batas untuk Pembaca Cilik

Kategori penulisan cerita anak dwibahasa menyita perhatian juri karena kreativitas para peserta benar-benar meledak. Dari angsa berbuluh perak hingga perjalanan warna kulit, karya-karya yang masuk begitu kaya makna sekaligus ramah bagi anak-anak. Karya yang masuk sangat banyak sehingga proses penilaian tim juri berlangsung cukup lama diwarnai adu argumentasi yang hangat karena tipisnya selisih skor yang diperoleh para peserta.

Akhirnya, diperoleh daftar juara sebagai berikut:

  1. Callista Josephine Tanosa – The Silver Feathered Swan
  2. Yusa Syifa Hudoyo – Kaleidoscope
  3. Imanina Resti Sujarwanto – Ada Apa dengan Warna Kulitku
  4. Hanifah Salsabila – Sayap Sang Malaikat dan Hati Si Pencuri

Kategori ini juga unik karena dua peserta berhasil meraih Juara 2 (Yusa Syifa Hudoyo dan Imanina Resti Sujarwo). Setelah proses tie-break yang cukup lama, juri tidak berhasil menentukan mana yang lebih baik menunjukkan karena keduanya memperoleh skor yang sama kuat. Keputusan untuk memberikan dua pemenang adalah bentuk apresiasi terhadap kualitas karya yang sama-sama layak dipuji.

Gerakan Menghidupkan Dunia Penerjemahan Indonesia

Translation Olympiad #1 bukan sekadar lomba. Ia adalah panggung yang menghadirkan wajah baru penerjemahan Indonesia, lebih berani, lebih kreatif, dan lebih siap menghadapi dunia global. Para peserta menunjukkan bahwa penerjemahan bukan lagi dianggap sekadar alih bahasa, tetapi sebuah seni, sebuah keahlian intelektual, dan bahkan sebuah jembatan budaya.

Melihat hasil karya para pemenang, satu hal menjadi jelas: generasi baru penerjemah Indonesia telah lahir, dan mereka membawa semangat, kecerdasan, serta visi yang segar dan menginspirasi.

Kami di JLTC bangga menjadi bagian dari perjalanan mereka. Semoga kehadiran Translation Olympiad #1 menjadi awal dari tradisi panjang kompetisi penerjemahan di Indonesia, yang bukan hanya melahirkan juara, tetapi juga membangun ekosistem literasi bahasa yang lebih kuat.

Selamat kepada para pemenang! Dunia penerjemahan menanti karya-karya hebat kalian berikutnya.

Merayakan Penerjemah

Harris Hermansyah Setiajid
Co-Founder Jogja Literary Translation Club
JLTC 0039

Estimasi waktu baca: 3 menit

Setiap 30 September, komunitas penerjemah di seluruh dunia merayakan Hari Penerjemahan Internasional. Perayaan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat bahwa pekerjaan penerjemah adalah pekerjaan kebudayaan: menjaga jembatan antarbahasa, antarbangsa, bahkan antarperadaban.

George Steiner, pemikir besar dalam kajian hermeneutika, pernah mengatakan: “Without translation, we would be living in provinces bordering on silence.” Tanpa penerjemah, dunia akan terpecah dalam kebisuan. Kalimat ini menggambarkan dengan tepat betapa krusialnya peran penerjemah sebagai penjaga jembatan antarbudaya.

Mengapa 30 September?

Hari Penerjemahan Internasional digagas oleh Federation Internationale des Traducteurs (FIT) pada 1991. Tanggal 30 September dipilih karena bertepatan dengan wafatnya Santo Hieronimus, penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Latin (Vulgata). Karya besarnya bukan hanya teks religius, melainkan juga jembatan yang menghubungkan generasi dan budaya.

Pengakuan ini kemudian diperluas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menegaskan bahwa penerjemahan merupakan bagian dari upaya menjaga perdamaian dan pemahaman lintas bangsa.

Tantangan Penerjemah Masa Kini

Meskipun profesi penerjemah makin diakui, tantangan yang dihadapi kian kompleks.

1. Teknologi yang disruptif.
Mesin penerjemah berbasis kecerdasan buatan (AI) kini mampu bekerja cepat, tetapi sering gagal menangkap nuansa, ironi, atau emosi. Penerjemah manusia dituntut untuk memberi nilai tambah yang tak tergantikan: sensitivitas budaya dan kreativitas. Lawrence Venuti mengingatkan, “Translation changes everything.” Maka, penerjemahlah yang menentukan agar perubahan itu bermakna.

2. Kompleksitas bidang khusus.
Dari hukum, medis, hingga audiovisual, setiap bidang penerjemahan menuntut keahlian tersendiri. Penerjemah hukum harus memahami sistem common law dan civil law. Penerjemah medis berhadapan dengan istilah yang menyangkut keselamatan pasien. Penerjemah audiovisual menyeimbangkan teks dengan tempo visual. Semua ini menegaskan bahwa penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata, melainkan menghadirkan pemahaman.

3. Pengakuan profesi.
Masih banyak penerjemah menghadapi tantangan klasik berupa rendahnya penghargaan finansial dan minimnya perlindungan hukum. Profesi ini kerap dianggap sampingan, sehingga standar tarif dan regulasi ketenagakerjaan masih jauh dari ideal. Padahal, dari dokumen hukum internasional hingga teks sastra lintas budaya, penerjemah berperan penting menjaga komunikasi global. Karena itu, pengakuan profesi perlu diperkuat melalui asosiasi, pendidikan formal, dan dukungan kebijakan agar penerjemah mendapatkan tempat yang layak di mata publik.

JLTC dan Relevansinya

Dalam konteks Indonesia, salah satu lembaga yang konsisten menegaskan peran penerjemahan adalah Jogja Literary Translation Club (JLTC). Sejak berdiri pada 2016, JLTC kini lebih berfokus pada seminar, penelitian, dan penerbitan buku.

Relevansi JLTC tercermin dalam tiga hal utama:

  1. Seminar sebagai ruang dialog
    JLTC menyelenggarakan seminar nasional dan internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi. Forum ini memperkaya wacana dan menjaga diskursus penerjemahan tetap hidup.
  2. Penelitian yang mendalam
    JLTC berfungsi sebagai basis riset yang menelaah strategi, dampak sosial, dan peran teknologi dalam penerjemahan. Hal ini meneguhkan penerjemahan sebagai bidang kajian serius di Indonesia.
  3. Penerbitan buku
    Melalui penerbitan karya akademik, JLTC menghadirkan referensi yang memperkaya literatur nasional sekaligus menjadi wadah bagi penulis muda. Inilah bentuk nyata dari peran JLTC sebagai penjaga jembatan ilmu.

Hari Penerjemahan Internasional 2025 menegaskan kembali bahwa penerjemah adalah penjaga jembatan antarbudaya. Teknologi bisa membantu, tetapi nilai kemanusiaan, sensitivitas, dan integritas penerjemah tetap tak tergantikan.

JLTC hadir untuk memastikan bahwa penerjemahan di Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi berkembang. Melalui seminar, penelitian, dan penerbitan buku, JLTC menegaskan peran penerjemah sebagai agen budaya yang menjaga dunia tetap saling memahami.

Maka, merayakan Hari Penerjemahan Internasional berarti merayakan mereka yang dalam sunyi merawat jembatan rapuh antarbudaya, agar kita semua bisa tetap berjalan di atasnya.